“RELIGIOUS STUDIES” : DULU DAN KINI

Istilah agama berkaitan dengan sejarah kultural dan intelektual Barat, yang membawa mereka dalam diskusi-diskusi  tentang studi-studi keagamaan (religious studies) sebagai sebuah disiplin ilmu.

Istilah “agama” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti religio. Oleh Cicero, secara etimologi istilah ini terkait dengan kata relegere yang berarti “melacak kembali” atau membaca ulang. Maka, religio berkaitan dengan upaya melacak kembali adat ritual nenek moyang suatu kaum. Konsepnya sendiri berasal dari bangsa Romawi pagan yang menyamakan religio dengan traditio. Oleh karena itu, religio di sini mewakili ajaran-ajaran nenek moyang  yang tidak seharusnya dipertanyakan.

Ciri khusus dari religio Romawi adalah toleransinya terhadap tradisi yang berbeda-beda. Namun kemudian, pandangan Cicero dikritik oleh penulis Kristen abad ke-13 bernama Lactantius bahwa religio berasal dari kata religere yang berarti mengikat kebersamaan atau berhubungan. Maka bagi Lactantius religio adalah sebuah penyembahan pada kebenaran, dan tahyul pada kekeliruan. Ditambahkannya juga bahwa, yang terpenting adalah mengapa anda menyembah, atau untuk apa anda bersembahyang, bukannya bagaimana anda menyembah. Ini memperjelas bahwa, orang-orang yang tidak tunduk pada Tuhan yang mahakuasa  dan mahatinggi, yang berarti menyembah tuhan-tuhan lain, selanjutnya dipandang sebagai pagan dan bertahyul.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika tuhan-tuhan yang mereka sembah juga dalam pandangan mereka adalah tuhan yang mahakuasa dan mahatinggi seperti halnya Tuhan dalam agama Kristen, apa yang menjadi ukuran untuk menbedahkan kedua hal itu? melihat kembali ke belakang, bahwa perubahan makna religio ala Kristen mendorong timbulnya pemahaman baru sebuah agama. Anggapan ini selanjutnya memberi indikasih baru bahwa, sebagai sebuah agama, kata-kata tertulis dan penafsirannya yang benar penting ditekankan. Oleh karena itu, pandangan Barat menilai bahwa sebuah agama haruslah tekstual, artinya agama harus punya kitab sucinya sendiri.     

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA