KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA
Ketika rumah orang Papua mulai berganti ahli secara perlahan kepada para pendatang. Bukannya orang Papua menjadi tuan, malah menjadi tamu di atas tanahnya sendiri, di dalam rumah atau dapurnya sendiri.
(Sumber gambar : http://miner8.com/id/3737 )
Ketimpangan
sosial terjadi karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal disebabkan
oleh rendahnya kualilats sumber daya manusia (SDM), serta faktor external
disebabkan oleh kecilnya akses yang tersedia maupun disediakan untuk
menggunakan peluang yang ada. (Sociology Anthtropology : http://blog.unnes.ac.id/najib23/materi-sosiologi-sma-kelas-xii-ketimpangan-sosial-sebagai-dampak-perubahan-sosial-di-tengah-globalisasi/,
2019)
Kesenjangan
sosial ini terjadi, berkaitan dengan sumber daya yang ada. Sumber daya yang
tidak tepat mengenai sasaran dan tidak merata di tengah masyarakat akan
menimbulkan yang namanya kesenjangan sosial. Hal-hal ini dapat ditemui di luar Pulau Jawa yang akses dan bahkan kesempatan untuk bersaing
dengan orang-orang di Jawa sangat kecil karena tidak begitu maju dan memadai
seperti halnya di Jawa.
Berbicara
soal Papua, ketimpangan sosial yang terjadi di Papua didorong oleh banyak hal
dan semakin parah persoalannya dalam tahun-tahun belakangan ini. Persoalan ini
ditujuhkan khusus kepada orang Papua dan para pendatang. Tanah Papua yang kaya,
memberi banyak hal bagi mereka yang tinggal di atasnya, baik hal positif maupun
hal negatif. Bahkan kenyataan lainnya, pada dewasa ini orang-orang pendatang malah lebih maju ketimbang
orang Papua. Jika yang terjadi adalah demikian, lalu apa persoalan besar yang
terjadi dan mengapa orang Papua asli semakin hari semakin tertindas secara
ekonomi, sosial, dan politik di atas tanahnya sendiri?
Melihat
ke belakang sedikit, orang Papua adalah suku-suku yang sudah hidup dengan mengandalkan
tanah-tanah untuk pertanian dan laut serta sungai untuk menyambung hidup. Ada
sebuah ungkapan yang dipegang, contohnya suku Me, zaman sebelum mengenal
berbagai prodak Barat adalah “jika tidak bekerja membuat kebun, maka kita bisa
mati kelaparan. Untuk itu harus kuat kerja, supaya hidup dan keluarga selalu
sejahtera.
Kebiasaan
hidup seperti di atas semakin ke sini semakin hilang, bahkan hanya 20% orang
Papua yang masih tetap melakukan kebiasaan ini. Yang menyebabkan ini terjadi,
pertama, masuknya budaya Barat dan tentu hal tersebut tidak dapat kita hentikan.
Kedua, program wajib penanaman padi di seluruh Indonesia yang dicanangkan
presiden Soeharto dengan menyepelekan bahwa tidak semua suku mengonsumsi beras
dan tahu cara pembudidayaannya. Ketiga, Penyaluran raskin yang dilakukan
pemerintah, membuat masyarakat di Papua jadi beralih mengonsumsi beras
ketimbang makanan pokok yang sudah sebelumnya dimakan hampir setiap hari.
Kondisi ini juga berakibat pada menurunnya angka orang-orang yang masih
bertahan dengan bekerja di ladang. Malahan ini menjadi semacam pekerjaan
sampingan, bahkan bagi para petani umbi-umbian khususnya di daerah dataran
tinggi Papua.
Ini
bukan persoalan beras sebagai makanan pokok di Indonesia, sehingga wajar saja
jika itu dikonsumsi semua orang. Permasalahannya adalah bagaimana jika suatu
saat beras menurun produksinya, lalu sebagian besar orang Papua yang katanya
sekarang tidak dapat hidup jika tidak makan nasi dalam satu hari itu butuh,
sedangkan mereka bahkan sudah tidak bertani bahkan mengelolah pekarangan
rumahnya dengan ditanami berbagai tanaman yang dapat dimakan.
Program-program
yang seolah dikondisikan oleh pemerintah pusat di masa lalu, membawa suasana
baru dan perubahan yang baik sesaat namun malah menjadi penjara buat orang
lokal, khusunya di Papua. Sudah SDMnya rendah walaupun sumber daya alam sangat
kaya, program-program ini juga membuat sikap malas kerja, mau terima enaknya
saja, dan malas bersaing tumbuh dalam diri orang Papua saat ini. Semua itu
serasa komplit dengan program otonomi khusus (otsus) untuk Papua.
Situasi
di atas ini dimanfaatkan oleh pemerintah juga untuk mengirim para trasmigran
dari Jawa ke Papua dalam mengurangi angka kemiskinan, kepadatan penduduk, dan
untuk memenuhi kebutuhan kerja dalam mengolah sumber daya. Terkait ini,
transmigran yang ke Papua hingga hari ini semakin meningkat. Dengan kondisi
orang Papua di atas, malah mendatangkan peluang usaha bagi para pendatang yang sangat
besar. Mulai dari punya lahan sawah, sawit hingga pertokohan, hanya sedikit
orang yang mau belanja di pasar mama Papua atau barang mereka karena jika
dilihat, orang pendatang juga menjual hal serupa seperti yang dijual oleh mama-mama
Papua, sebut saja papeda dan umbi-umbian. Hal ini membuat ekonomi lokal orang
Papua terancam, pembukaan lahan sawit juga membuat sumber daya alam orang Papua
habis. Ini merupakan sebuah ironi, dimana para pendatang menjadi tuan dan tuan
atau pemilik rumah (orang Papua) sesungguhnya malah menjadi penonton dan semakin terasing.
Menurut
data BPS (Badan Pusat Statistik), Papua berada pada angka kemiskinan tertinggi
nasional pada Maret 2018, yakni 27,74% dari total populasi yang ada. Sedangkan ketimpangan
sosial di Papua, berada dibawah angka ketimpangan nasional, yakni 0,389. Mengapa
Papua mendapat angka begitu fantantis, sedangkan kita punya tanah yang kaya? (Dkatadata.co.id
: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/07/26/ketimpangan-di-papua-turun-dalam-dua-tahun-terakhir,
2019 )
Hal
mendasar yang orang Papua mesti basmikan dari sekarang adalah kemalasan. Malas
belajar, malas bekerja, menolak berubah, tidak ingin berkompetisi dengan lain,
iri hati terlalu besar antara orang Papua, dan jangan malu, yang pada akhirnya
malu-maluin. Kesadaran akan punya tanah yang kaya dan subur mesti ditanamkan
dalam diri, setelah itu memotivasi diri untuk bekerja keras. Ingat, kita punya
leluhur hidup bahkan dari kerja keras, jika tidak kita bisa dilanda kelaparan,
tidak sejahtera bahkan bisa saja jadi pengemis di tanah sendiri. Zaman boleh
berubah, tapi tradisi dan budaya harus tetap dipegang atau diingat. Ingin berusaha juga,
berusahlah yang tidak merugikan manusia dan tentunya alam Papua seperti yang dibuat oleh para pendatang.
Saya
pun jadi ingat sebuah ayat Alkitab yang terambil dari Yohanes 10:10 ‘Pencuri
datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya
mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.’
Semoga Tuhan selalu
beserta orang Papua, dalam perjuangan untuk menjadi tuan di rumah sendiri.

Komentar
Posting Komentar