Orang Tionghoa di Serui dan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia Di Masa Revolusi

Sejarah orang Tionghoa di bagian Timur Indonesia, khususnya Papua masih sangat jarang ditulis. Oleh karenanya, perkembangan orang Tionghoa di Papua yang memiliki banyak perbedaan dengan daerah lain di Indonesia tidak begitu banyak diketahui. Seperti halnya stereotip yang umumnya disematkan pada orang Tionghoa bahwa mereka lebih unggul di bidang ekonomi dibandingkan penduduk lokal, yang mana telah menyebabkan hubungan yang kurang baik di antara keduanya yang berakibat konflik. Mengenai hal tersebut, kisah masyarakat Tionghoa di Papua sangatlah berbeda.

(Kuburan Tioghoa di Serui. Sumber gambar: Lisa Suroso,”Tradisi di Antara Agama dan Politik”. http://lisasuroso.wordpress.com/2009/12/29/tradisi-di-antara-agama-politik/, Gambar ini diunduh pada tanggal 08 Oktober 2014)

Sejarah orang Tionghoa di bagian Timur Indonesia, khususnya Papua masih sangat jarang ditulis. Oleh karenanya, perkembangan orang Tionghoa di Papua yang memiliki banyak perbedaan  dengan daerah lain di Indonesia tidak begitu banyak diketahui. Seperti halnya stereotip yang umumnya disematkan pada orang Tionghoa bahwa mereka lebih unggul di bidang ekonomi dibandingkan penduduk lokal, yang mana telah menyebabkan hubungan yang kurang baik di antara keduanya yang berakibat konflik. Mengenai hal tersebut, kisah masyarakat Tionghoa di Papua sangatlah berbeda.

Keterbatasan Sumber mengharuskan saya untuk memakai bahan yang tersedia secara online. Walaupun ada sebuah buku berjudul, “Mereka bilang aku China: Jalan Mendaki Menjadi Bagian Bangsa” yang membahas tentang etnis Tionghoa di Papua, tetapi masih kurang mendalam. Bahan dari internet yang saya gunakan lebih membahas mengenai kebudayaan atau peninggalan orang Tionghoa, perkembangannya masa kini, dan sedikit membahas tentang kegiatan mereka di Papua.

Tionghoa di Papua

Kedatangan etnis Tionghoa ke Nusantara hingga ke Papua dipicu oleh perdagangan hasil bumi seperti cengkeh, kayu cendana, dan kasuari, akan tetapi komoditi yang paling utama dalam perdagangan pada abad ke -17 dan ke-18 di Papua adalah budak dan bulu burung Cendrawasih yang saat itu sedang marak di kalangan bangsawan Eropa dan Amerika.  Ketika para pedagang Tionghoa datang, yang dijadikan sebagai alat tukar mereka adalah keramik, kain, pisau, dan porselin. Pada dasawarsa-dasawarsa berikutnya, keramik-keramik ini dikumpulkan dan menjadi pusaka bagi keluarga di Papua karena kelak dijadikan sebagai alat yang wajib diberikan sebagai mas kawin oleh keluarga mempelai laki-laki kepada keluarga pihak perempuan.     

Faktor alam yang menantang, khususnya di daerah pesisir yang lebih bergairah dan terbuka menjadi faktor orang Tionghoa banyak terdapat di daerah pesisir. Keberadaan suku-suku di  Papua yang sangat beragam dengan karakter yang berbeda memberi pengaruh yang besar bagi etnis Tionghoa dalam hal berdagang, maka untuk dapat berbaur dengan orang Papua, telah banyak cara mereka lakukan. Adapun hal-hal yang sudah dilakukan, di antaranya belajar dan mengerti bahasa setempat, memperkenalkan tekonologi-teknologi baru, dan melakukan perkawinan dengan perempuan Papua.

Hubungan Orang Tionghoa Dengan Orang Papua

Kedatangan etnis Tionghoa tidak mengundang konflik dengan penduduk asli, seperti yang terlihat di tempat lain di Indonesia, yang lebih cenderung agresif kepada etnis Tionghoa dikarenakan lebih unggul dalam bidang ekonomi dan perbedaan yang dibuat Belanda kepada mereka. Hal tersebut dibenarkan oleh Piabon Mai, ia mengatakan bahwa mereka tidak merasakan adanya perbedaan yang dibuat oleh Belanda terhadap orang Papua seperti yang terlihat di Jawa, yang mana etnis Tionghoa diharuskan tinggal di kawasan yang sudah dikhususkan untuk mereka dan menerapkan pajak bagi yang mau bepergian keluar distrik. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian orang Tionghoa yang sampai ke Papua bernasib buruk juga karena digigit hewan buas, meninggal karena Malaria, atau ditangkap dan ditawan oleh suku Papua setempat hingga meninggal.

Masyarakat Tioghoa di Serui

Di Serui, kabupaten Kepulauan Yapen, Papua (saat ini), berkembang satu perkumpulan besar bernama Toroa. Mereka yang tergabung dalam perkumpulan ini bermarga Tan yang di antaranya juga ada marga  The, Oei, Soe, Yo, Sie, Goan, Thung, Chung, Cheng, Chi, dan Bong. Mereka tersebar di beberapa daerah seperti Serui, Biak, Jayapura, Yobi, Sorong, dan Raja Ampat. Nama Toroa adalah nama yang diberikan kakek mereka untuk sebuah pulau di wilayah Ambai yang artinya “di sini kami berdiri untuk maju”. Di pulau inilah Tan Kai Tjok, leluhur mereka hidup dan mengembangkan keturunanya. Ia datang bersama keponakannya Tan Siu Liu dari provinsi Fujian di Tiongkok untuk mencari hasil bumi. Setelah meminang Moibin Mabonai, salah satu anak dari seorang tetua adat desa Manawi yang cukup berpengaruh, ia menentap di Papua. Kai Tjok selanjutnya membawa Moibin ke pulau Toroa itu  dan mendirikan toko yang menjual macam-macam barang dengan cara barter. Di sana Kai Tjok mengajarkan merangkai kerang-kerang menjadi rompi dan sejak saat itulah penduduk Ambai mulai mengenal orang dan budaya asing.

Selain Tan Kai Tjok, ada juga etnis Tionghoa lain seperti Chi Hoy Sam, perantau yang datang bersama isteri berkaki kecil dari Tiongkok. Kalau dilihat saat ini, kebanyakan dari mereka adalah para pedagang yang berhasil. Salah satunya adalah keluarga Merpati yang mempunyai Toko Kelontong Merpati di Serui. Tidak hanya itu, keluarga.Merpati juga punya hotel dan restoran. Tentunya, semua yang masih dapat dinikmati sampai saat ini dikarenakan jerih payah Chi Hoy Sam. Sehingga, kebanyakan dari mereka pada umumnya menjadi distributor dan mempunyai kapal yang membawa barang dari Jawa dan Makasar. 

1. Sumbangan Etnis Tionghoa Dalam Integrasi Irian Barat ke Pangkuan NKRI

Pada masa revolusi Indonesia, ada beberapa orang Tionghoa dari Kong Ek Hwee, membentuk sebuah gerakan bawah tanah. Kong Ek Hwee adalah organisasi masyarakat Tionghoa di Serui yang dinamakan Batalyon Tentara Tjendrawasih Tjadangan (TTT). Organisasi ini terus berkembang dan mulai melakukan diskusi kecil, sehingga mereka menyimpulkan bahwa Belanda akan kalah oleh karena itu mereka ikut mendukung gerakan pro-Indonesia.

Akan tetapi, lama-kelamaan gerakan ini diketahui juga oleh Belanda, sehingga beberapa orang akhirnya ditangkap dan dipenjarakan selama tiga bulan, serta kena wajib lapor. Aktivitas mereka yang pro-Indonesia ini konon membuat seorang Komisaris Polisi Van Eechoud kesal karena Perhimpunan Kong Ek Hwe ini telah membuat perjanjian dengan Belanda dan ternyata secara diam-diam mereka juga mendukung gerakan pro-Indonesia. Atas  jasa mereka, maka ketika ada masalah kebijakan kewarganegaraan tahun 1962-1963, mereka terhindar dari persoalan tersebut. hal ini disebabkan oleh Stefanus Rumbewas yang merupakan keturunan Tionghoa yang pergi menghadap Presiden Soekarno dan menceritakan semua perjuangan mereka.

Kesimpulan

Penyebaran etnis Tionghoa di Indonesia pada era modern ini semakin hari terus bertambah. Ada satu hal yang tentu menjadi pendorongnya, yakni kesadaran mereka akan pentingnya menjaga keetnisitas mereka itu tetap ada, walaupun dikemudian mereka menikah dengan orang pribumi dan memakai marga ibu mereka. Di samping itu, ciri khas mereka sebagai etnis Tionghoa juga tetap ada, contohnya seperti di Serui yang beberapa etnis tionghoanya masih menggunakan beberapa keahlian yang diajarkan oleh nenek moyang mereka dalam hal medis misalnya, seperti membacakan mantra dalam bahasa mereka walaupun mereka tidak mengerti tentang arti dari mantra itu, akan tetapi setidaknya mereka masih mempertahankan hal itu sebagai warisan hingga saat ini. Jadi, pernikahan campuran antara mereka tidak mengubah keetnisitas mereka, itupun juga tergantung pada lingkungan di mana mereka tinggal.

Daftar Pustaka

Muler, Kal, Mengenal Papua. Papua: PTFI, 2008.

Lisa Suroso,”Cerita Ciko di Bumi Cendrawasi”. http://lisasuroso.wordpress.com/2009/12/29/cerita-ciko-di-bumi-cendrawasih/, diunduh pada tanggal 08 Oktober 2014, pukul 23:52.

Lisa Suroso,“Dari Gerakan Bawah Tanah sampai Zona Damai”. http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/312-dari-gerakan-bawah-tanah-sampai-zona-damai, diunduh 11 Oktober 2014, pukul 05:00.

Lisa Suroso,”Keramik Tiongkok, Alat Tukar yang Membudaya”. http://lisasuroso.wordpress.com/2009/12/29/keramik-tiongkok-alat-tukar-yang-membudaya/#more-190, diunduh pada tanggal 08 Oktober 2014, pukul 22:53.

Lisa Suroso,”Tradisi di Antara Agama dan Politik”. http://lisasuroso.wordpress.com/2009/12/29/tradisi-di-antara-agama-politik/, diunduh pada tanggal 08 Oktober 2014, pukul 23:03.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA