KAJIAN SEMIOTIKA PADA VIDEO IKLAN “HONEST GOVERNMENT AD | VISIT WEST PAPUA”

 Munculnya media massa dan elektronik, kini telah memberi ruang yang cukup mudah dalam menyebarkan dan berbagi informasi serta berkomunikasi. Media massa sendiri memiliki dua ruang geraknya masing-masing, yakni media cetak dan media elektronik. Di samping berbagai berita yang terus-menerus diproduksi, iklan adalah salah satu yang tidak luput dari kehadirannya. Iklan dihadirkan juga dalam banyak bentuk, maksud, dan tujuan tertentu, yakni mengenai prodak barang tertentu, makanan, pekerjaan, kampanye pemilihan, dan sebagainya yang ditampilkan melalui sebuah gambar maupun yang berbentuk video. Selain itu, iklan-iklan yang hadir juga membawa serta pesan dan simbol-simbol tertentu yang terkadang terabaikan untuk dilihat lebih jauh.

Berkaitan dengan iklan, ada beberapa karakteristik yang dapat ditemukan melekat padanya. Di antaranya pertama, iklan merupakan sebuah bentuk komunikasi berbayar, dimana sebuah media massa mesti membayar biaya slot, misalnya papan pengiklanan. Kedua, iklan adalah sebuah komunikasi non-personal, yang mengartikan bahwa iklan yang dikeluarkan oleh media massa tersebut bersifat publik dan bukan individu. Ketiga, berkarakteristik menggunakan sponsor yang teridentifikasi, artinya iklan yang dikeluarkan memiliki identitas pengiklan yang jelas. Keempat, iklan bertujuan untuk menarik audiens sebanyak mungkin (Rachmat Krisyantono et.all, 2013: 69-70).

Berkaitan dengan video iklan “honest government ad | visit West Papua” yang menjadi bahan pembahasan di sini juga tentunya memiliki karakter-karakter yang dimaksud di atas. Walaupun ini merupakan iklan yang bernada satire yang berisi sindiran kepada sebuah kelompok, organisasi, bahkan negara, tentu tetap layak untuk dinilai. Satire menurut KBBI adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang.[1] Lebih tepatnya berisi ungkapan-ungkapan yang membicarakan soal kejahatan hingga kebodohan yang bertujuan untuk menertawakan dan menolaknya. Namun lebih tepatnya berisi kritik moral dan politik yang dapat disampaikan dalam berbagai bentuk ekspresi seperti dalam nada ramah hingga nada yang memiluhkan (Wahyu Wibowo, 2006: 110).

Dengan melihat berbagai karakteristik yang dimiliki sebuah iklan, tentu ada fungsi-fungsi tertentu melalui kehadiran sebuah iklan di hadapan khalayak umum. Lee & Johnson kemudian menjelaskan tiga fungsi yang melekat pada iklan, yakni mempunyai fungsi informasi dan persuasif artinya ada tujuan untuk mempengaruhi atau membujuk massa, dan berfungsi mengikat (Rachmat, 2013: 70-71). Berkaitan dengan konten satire soal Papua, fungsinya juga sudah jelas dan dapat ditebak sesuai dengan kata satir yang melekat, walaupun The Juice Media[2] tidak menyertakannya tetapi isi kontenya jelas berisi sindiran atau ejekan.

Kenyataannya The Juice Media bukanlah pertama kali membuat konten-konten bernada satire tersebut dan konten yang dibuat pun dengan tujuan mengkritik pemerintah Australia. Pada 21 November 2018, The Juice Media memposting sebuah konten tentang Papua di laman youtube mereka dan membawa kehebohan tersendiri di media tanah air. Setahun berlalu, konten berjudul “Honest Government Ad | Visit West Papua” dengan durasi 2 menit 20 detik tersebut tidak dapat diakses lagi ketika Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) turun tangan dan memblokirnya. Salah satu alasan diblokirnya konten tersebut adalah karena dianggap memprovokasi dan mengandung berita hoax dengan tanpa penjelasan lebih lanjut letak yang dimaksud di bagian mananya.[3] Maka, apa kemudian penanda dan petanda yang dimunculkan melalui video tersebut? Apa makna yang tergambar dan tersampaikan melalui video tersebut? Apa aksi yang diambil dari pemaknaan yang muncul melalui video tersebut? Beberapa hal ini yang ingin digali secara mendalam melalui tulisan ini.

A.    Kerangka Konsep

Untuk menjawab permasalahan di atas, dalam persoalan tanda-tanda yang dapat dibaca dalam kasus kontennya The Juice Media, maka pemikiran Roland Barthes (1915-1980) dalam semiotika dipakai. Semiotika dipakai dalam penulisan untuk membantu membaca makna yang terkandung dalam video satire “Honest Government Ad | Visit West Papua. Beberapa konsep Roland Barthes dalam semiotika yang hendak dipakai di sini adalah konsep penanda (signifier) dan petanda (signified), denotasi, dan konotasi.

Barthes melihat bahwa penanda merupakan sebuah “ekspresi” dan petanda merupakan “isi’ yang dalam bahasa Perancis disebutnya contenu. Sedangkan denotasi disebutnya sebagai “primer” atau ‘utama’ yang dalam perkembangannya mengalami perkembangan dua arah yang selanjutnya dikenal dengan sistem “kedua” atau “sekunder”. Ini mengartikan bahwa pemakai dari sebuah tanda dapat memberikan makna yang berbeda dari tanda sama yang dikenakan, misalnya makna antara air putih atau bening, minuman bersoda atau sprite, atau juga air minum aqua atau air kemasan. Namun jika pengembangan yang dimaksud di atas lebih ke penandanya atau “isi” maka makna yang lahir ialah konotasi (Syaiful Halim, 2017: 62-63).

Konotasi merupakan sebuah makna yang lahir atas dasar kemauan sang pemakai, hal itu salah satunya dapat di dorong oleh latarbelakang pengetahuan yang dimilikinya. Di samping itu, denotasi sendiri merupakan tingkat pertandaan yang menjelaskan penanda dan petanda yang lebih pada hubungan antara keduanya. Lebih jelasnya, makna yang dapat dilihat melalui konsep denotasi adalah dari yang tampak, misalnya foto (Syaiful Halim, 2017: 65).

Berkenaan dengan penulisan ini, maka yang akan diperhatikan lebih jauh adalah membaca makna dari video satir milik The Juice Media. Terlebih membaca makna yang ditangkap oleh masyarakat yang melihat konten video ini sehingga menjadi bahasan yang mengundang berbagai argumen berbeda, terlebih khusus pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kominfo yang berakhir dengan memblokir iklan tersebut.

B.    Pembahasan

Setelah melihat video satire The Juice media, maka dapat digambarkan seperti di bawah ini. Terlebih khusus mengacuh juga pada langkah-langkah yang dipakai melalui konsep-konsep semiotika. Konten video tersebut akan digambarkan dengan menyertakan gambar-gambar yang sudah dicrop dari video tersebut, guna memperjelas penjelasan dalam tulisan ini.

(Sampul depan konten satir The Juice Media. Sumber gambar : https://reclaimthenet.org/youtube-blocks-satirical-west-papau-video/, diunduh pada 16 Desember 2019)

Penanda (signifier)

Petanda (signified)

West Papua Visit : Honest Government Ad

Konten Youtube yang berjudul West Papua Visit : Honest Government Ad dibuat dengan tujuan mengkritik pemerintah Australia tentang upaya “penghancuran” terhadap masyarakat Papua Barat.

 

Latar belakang pada video : wisata Raja Ampat, hutan hujan tropis, masyarakat Papua, kota Fakfak, tambang Grasberg, video dan gambar kekerasan dan pembunuhan militer terhadap warga Papua, peta Australia, lambang PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), foto-foto saat PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat), Pulau Manus, foto Theys Eluay dan penghargaan pemerintah Australia terhadap petinggi militer Hartomo yang menjadi dalang di balik pembunuhan Theys, semboyan “Bhineka Tunggal Ika” beserta lambang garuda, perkebunan sawit di Merauke, penebangan hutan Papua, kota Cairns Australia, foto Luhut Panjaitan dan Wiranto bersanding bersama diplomat Australia George Brandis, dan gambar artikel yang memuat permintaan maaf Australia ke Indonesia, yang memperlihatkan gambar panglima TNI Gatot Nurmantyo berjabat tangan dengan panglima militer Australia Angus Campbell.

Gaya narator yang cukup kasual

1.     Tataran Denotatif pada Video West Papua Visit: Honest Government Ad

Dalam video satir milik The Juice Media dapat ditemukan bahwa konten tersebut memuat berbagai gambar dan video kekerasaan hingga pembungkaman media, dan pengrusakan alam di Papua. Di antaranya juga adalah soal hubungan Indonesia-Australia, yang berkaitan dengan persoalan Papua. Judul dari video ini juga menunjukan bahwa kontennya seolah berisi sebuah iklan wisata ke Papua. Apalagi dengan latar belakang pada pembukaan konten ini adalah gambar kepulauan Raja Ampat, yang didukung juga dengan busana kasual sang narator.

2.     Tataran Konotatif pada Video West Papua Visit : Honest Government Ad  

Pada tataran konotatif dari video ini menunjukan bahwa hampir 100% konten ini bernada satir. Adapun ekspresi sang narator selama video menunjukan bahwa sang narator terlihat sangat ceria, santai, dan bahagia ketika melontarkan kalimat kritik dan bernuansa politik kepada pemerintah Australia tersebut. Kenyataannya, semua gambar dan video yang memperlihatkan keindahan, kekayaan alam, masyarakat Papua, dan berbagai fenomena itu, ditunjukkan bahwa Papua dibalik keindahnnya terdapat banyak kasus kemanusian. Seperti pembunuhan, penghilangan paksa, penyiksaan, media blacklist, meluasnya perkebunan sawit, dan reboisasi yang selama ini tidak terjangkau dan terlihat. Pemerintah Indonesia-Australia dimunculkan sebagai dua kekuatan besar yang mengendalihkan kekuasaan atas pulau Papua yang kaya, namun masyarakatnya rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini dilakukan untuk mengkritik hubungan luar negeri Australia, berkaitan dengan Papua dan menunjukkan kepada publik Australia tentang apa yang politik luar negeri Australia lakukan.           

Dari sisi ekspresi pun dapat dicermati bahwa sepanjang video berlangsung, sang narator dengan gaya kasual ditambah dengan  intonasi suara sang narator yang mengalir dengan tenang, terlihat seakan benar-benar sedang mempromosikan sebuah destinasi wisata yang patut dikunjungi. Apalagi dengan judul dari konten yang bernada “iklan pariwisata”, yang di pertengahan video isinya berupa kritik.

C.    Kesimpulan

Setelah melihat konten Youtube The Juice Media yang berjudul  West Papua Visit : Honest Government Ad, maka ditemukan makna Semiotika yang ditentukan oleh tampilan  konten video yang juga memuat gambar-gambar di dalamnya dan sistem tanda serta pemaknaan yang kemudian dapat ditemukan pada video iklan bernada satire ini.

Dengan menggunakan konsep semiologi Barthes pada video West Papua Visit : Honest Government Ad,  telah ditemukan bahwa ada hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified) di dalam sebuah tanda, sehingga hal ini menjelaskan tataran dari denotatifnya secara nyata. Selanjutnya dapat dilihat juga interaksi antara tanda dengan perasaan dan emosi yang muncul dari para penonton yang menyaksikan konten ini, serta argumen-argumen kritis dalam setiap kalimat yang diproduksi di dalamnya, membawa pada tataran konotasi yang memberikan berbagai makna tersendiri yang berpengaruh pada kerangka berpikir penonton.

Munculnya video satire di ruang publik, dalam hal ini di dunia online tentu membawa dampak yang besar. Konten yang ditonton oleh para pengguna media sosial, seperti halnya konten The Juice Media ini tidak selalu berakhir dengan komentar positif. Walaupun kontenya berupa kritik kepada pemerintah Australia, kenyataannya makna yang sampai atau ditangkap oleh pemerintah Indonesia mengundang kehebohan. Dengan itu, tindakan yang diambil dari makna yang didapat adalah dengan pemblokiran konten tersebut di bawah Kominfo, walaupun tentunya sebagian orang berpendapat bahwa yang semestinya marah adalah pemerintah Australia karena dalam konten tersebut pemerintah Australia menjadi subyek utama yang dibicarakan.

Link video satir The Juice Media : https://www.thejuicemedia.com/honest-government-ad-visit-west-papua-2/

D.    Beberapa Gambar Konten Satire




(Sumber Gambar : Gambar konten yang sudah diblock di Youtube. https://twitter.com/thejuicemedia/status/1166550365627699200/photo/1, diunduh pada 16 Desember 2019)

Daftar Pustaka :

Rachmat Krisyantono et.all, 2013. Potret Media Media Massa di Indonesia. Malang : UB Press.

Syaiful Halim, 2017. Semiotika Dokumenter: Membongkar Dekonstruksi Mitos dalam Media Dokumenter. Yogyakarta: Deepublish.

Wahyu Wibowo, 2006. Berani Menulis Artikel: Babakan Baru Kiat Menulis Artikel Untuk Media Massa Cetak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

https://www.thejuicemedia.com/about/,diunduhpada 10 Desember 2019.

https://tirto.id/the-juice-media-bikin-konten-satire-soal-papua-diblokir-kominfo-ehm8, diunduh pada 10 Desember 2019.

[1]https://kbbi.web.id/satire, diunduh pada 10 Desember 2019.

[2]The Juice Media merupakan sebuah media yang hampir 98,9% berisi "satire asli": yang mencakup omong kosong pemerintah dan masalah paling mendesak di zaman sekarang yang ditulis dan dibuat oleh Giordano Nanni di studio rumah halaman belakang di pinggiran kota Melbourne, Australia. https://www.thejuicemedia.com/about/, diunduh pada 10 Desember 2019.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA