“HANTU KOMPARASI : NASIONALISME, ASIA TENGGARA, DAN DUNIA” (BENEDICT ANDERSON)
Buku “Hantu Komparasi : Nasionalisme, Asia
Tenggara, Dan Dunia” terbit dengan judul aslinya yaitu “The Spectre of Comparisons: Nasionalism,
Southeast Asia and the World” karya Ben Anderson. Buku yang terbit tahun
1998 ini merupakan kumpulan tulisan Ben Anderson yang memuat sejumlah
peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di beberapa negara-negara di Asia
Tenggara. Adapun beberapa negara di antaranya adalah Thailand, Filipina, dan
Indonesia.
Sebagai karya
sejarah, buku ini juga memiliki nilai tersendiri karena Ben Anderson juga ikut
terlibat dalam beberapa peristiwa yang dibahasnya. Maka, hal ini juga
memudahkannya untuk memaparkan apa yang disaksikannya dan menjadikannya karya
yang cukup orisinil. Di samping itu, berkaitan dengan dua kata yang disebutnya,
yakni hantu komparasi ini terinspirasi dari sebuah ungkapan dalam buku novel “Noli Me Tangere”. Ungkapan yang turut
menginspirasi Ben Anderson dalam buku yang disusun oleh Jose Rizal adalah el demonio de las comparaciones yang
dipakai penulisnya untuk menyebut agen penglihatan ganda. Sebuah penglihatan
terhadap satu peristiwa dengan sudut yang berbeda, yang oleh Ben Anderson
disebutnya dengan melihat melalui
teleskop terbalik.
Dalam karya ini,
Ben Anderson mencoba membandingkan perkembangan nasionalisme dan nation bulding dari ketiga negara yang
menjadi acuan penelitiannya. Terlebih khusus tentang bagaimana para pemimpin
bangsa seperti Soekarno misalnya yang mengambil perbandingan tentang
nasionalisme dari realita yang terjadi di dunia Barat. Yang cukup disoroti oleh
Ben misalnya adalah Soekarno dengan kisahnya tentang Adolf Hittler sebagai
contoh dalam mengembangkan nasionalisme tanpa melihat kekejaman kemanusian yang
dilakukannya.
Dalam karya ini,
yang di maksud oleh Ben Anderson dengan ‘hantu’ adalah ketika melihat dan
mengamati ungkapan dan hal yang dibuat oleh para pendiri bangsa, khususnya di
negara yang dibahas. Ungkapan yang jika diamati tidak begitu tepat dan
terkadang tidak mudah ditebak, misalnya pandangan triloginya Sukarno tentang nasionalisme
Indonesia, masa lalu di Nusantara yang gemilang, masa sekarang yang suram, dan
masa depan yang penuh harapan yang hanya menjadi mitos politik belaka dan
‘hantu’ bagi kaum kolonial. Tidak dapat dipungkiri bahwa mitos-mitos politik
seperti ini masih dapat ditemui hingga hari, misalnya pidato politik yang
berisi tentang janji akan masa depan Indonesia yang lebih baik, maju, hingga
yang paling kontrofersi adalah pidato ramalan Prabowo tentang akan bubarnya
Indonesia dalam 30 tahun ke depan.
Ramalan yang
disampaikan oleh Prabowo itu pun kenyataanya bersumber dari sebuah novel berjudul
“Ghost Fleet” karya P. W. Singer dan
August Cole. Buku yang terbit tahun 2015 itu pun berkisah tentang sebuah armada
hantu dan akan adanya Perang Dunia Ketiga yang diramal akan terjadi. Kisah di
novel yang dibayang-bayang akan terjadi itu pun dipercaya sebagian besar orang
karena yang menulis adalah dua pakar nasional Amerika yang menulis berdasarkan
sebuah riset. Walaupun tetap bahwa semua itu hanyalah misteri yang orang pun
sulit untuk membayangkannya.
Di atas semua itu,
melalui buku ini Ben Anderson mencoba menyampaikan sisi lain dari eksotisnya
Asia Tenggara baik dari alam hingga politiknya. Namun jika ditelusuri lebih
dalam, ada banyak hal aneh hingga misteri yang masih belum bisa dipecahkan
dapat ditemukan. Kenyataan lainnya adalah perkembangan nasionalisme dan
kebangsaan di wilayah Asia Tenggara yang juga tidak terlepas dari pengaruh
global, namun sebagian dari para toko pendiri bangsa yang dibahas oleh Ben melihatnya
dengan kacamata yang berbeda. Hal itu yang membuat buku ini menarik dibaca.
Komentar
Posting Komentar