PEKAN BUDAYA TIONGHOA

Peranakan Tionghoa dan Yogyakarta punya sisi historis yang patut diceritakan di sini. Jogja sebagai sebuah kota istimewa ini, apakah memberikan perlakuan yang istimewa juga bagi orang Tionghoa? Sejauh mana keistimewaan itu didapat? Apa sisi lain dari acara Pekan Budaya Tionghoa yang dapat ditelusuri? Merupakan beberapa pertanyaan yang hendak dijawab.


(Persis dalam rumah Kapiten Tionghoa Tan Jing Sing, yang rumahnya dibuka untuk umum setiap Pekan Budaya Tionghoa diadakan. Sumber: foto pribadi).

Orang Tionghoa dan migrasi juga telah menjadi bagian historis di kawasan Asia Tenggara. Mereka datang sebagai pedagang lalu menetap dan mulai membangun komunitas-komunitas sendiri seperti halnya komunitas Arab. Sebagai orang-orang pendatang yang cukup sukses, etnis Tionghoa juga mengalami diskriminasi dalam sejarahnya. Berkaitan dengannya, Yogyakarta punya kisah tentang seorang Tionghoa bernama Tan Jin Sing (1760-1831). Tan adalah seorang kapiten Tionghoa yang berhasil menduduki posisi bupati dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadininggrat pada tanggal 18 September 1813. Tan menjadi salah satu orang Tionghoa yang cukup berpengaruh dalam lingkungan Keraton Yogyakarta, sehingga membawa hubungan yang baik antara rakyat Tionghoa dan pihak keraton. (Budi Susanto , S.J. (ed), 2003 : 74)

Untuk mengingat historisnya Tan sebagai seorang Tionghoa yang pernah menjadi orang penting di Yogyakarta, Pekan Budaya Tionghoa juga dimanfaatkan untuk kembali mengingat akan Tan. Walaupun dalam sejarahnya, Tan sendiri pernah berada pada posisi dibenci oleh pihak keraton, khususnya pengikut Sultan Sepuh dan juga sebagian orang Tionghoa setelah mangkatnya Sultan Hamengku Buwono III yang mengangkatnya menjadi bupati. Bukan tanpa sebab kenapa orang Tionghoa ikut mengejeknya karena Tan pun sangat dekat dengan kebudayaan Jawa, sehingga ikut melahirkan sebuah akulturasi budaya. Oleh karenanya Tan banyak diejek sebagai Cino wurung, Londo durung, Jowo tanggung, yang artinya “bukan lagi Tionghoa, belum Belanda, dan Jawa setengah matang”. (Budi Susanto , S.J. (ed), 2003 : 75)

Pada kesempatan ini, saya pun juga sempat dapat mengunjungi rumah yang pernah ditempati olehnya dan melihat isi rumahnya yang masih tersusun rapih dirawat di sana. Yang sedikit mengagetkan adalah saat sampai di belakang rumah yang ternyata dijadikan sebagai tempat untuk melukis wajah hingga membaca ramalan-ramalan dan jualan pernak-pernik. Agak kurang lengkap ketika memasuki rumah bersejarah tetapi kurang mendapat keterangan tentang apa saja yang ada di dalam atau memberikan sedikit cerita historis akan rumah tersebut dan siapa Tan Jin Sing ini. Tentunya hal ini akan cukup membantu bagi para pengunjung yang belum pernah mendengar nama dan sepak terjangnya di kekuasaan keraton.  

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) sendiri merupakan agenda tahunan yang merangkai perayaan Cap Go Meh dengan tujuan mengenalkan budaya Tionghoa. Acara yang dimeriahkan dengan bazar pernak-pernik Imlek hingga makanan turut dihadiri oleh semua orang dari berbagai agama, budaya, dan sosial. Saat diamati, kenyataannya tidak semua makanan yang dijual adalah khas Tionghoa karena banyak makanan khas dari beberapa daerah juga ikut disajikan di situ, misalnya jajanan harian seperti kerak telor dan lainnya juga turut dijual.

Nuansa Tionghoanya memang sangat terasa ketika berkunjung ke acara ini karena tujuannya untuk itu. Tetapi jika bercerita tentang orang Tionghoa di Jogja hari ini sebagaimana yang disinggung oleh Samsu Rizal Panggabean dalam bukunya “Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia” mengatakan bahwa etnis Tionghoa di Jogja hari ini mengalami diskriminnasi dalam hal tidak bisanya memiliki hak milik tanah seperti yang diperoleh etnis Tionghoa di Surakarta dan tempat lainnya. Artinya akan sangat membantu jika ada sisi historis juga ikut tersampaikan melalui acara ini dan cukup penting bagi masyarakat Tionghoa yang juga ikut membentuk kawasan Asia Tenggara yang sekarang ini. Tanpa harus menomorduakan satu etnis pun, sebab seperti ungkapan Gelman Taylor bahwa tidak ada yang asli di Indonesia karena nama Indonesia sendiri saja buatan orang Belanda bernama James Logan. Pertanyaan besarnya sekarang adalah mana yang asli atau siapa yang asli di antara kita dan ukuran yang dipakai untuk menyebut yang asli itu apa?    

Bahan Bacaan :

Ananda Astrid Adrianne, 2014. Happy Shoping Jogja : The Good Trvlrs Journal. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Budi Susanto , S.J. (ed), 2003. Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA