ASIA TENGGARA, KERATON, DAN EKSISTENSINYA

(Salah satu pengunjung di pameran foto Keraton di Bentara Budaya Yogyakarta. Sumber : https://amp.antarafoto.com/peristiwa/v1580772007/pameran-foto-keraton)

Keraton atau yang dalam bahasa Jawa disebut kraton atau karaton merupakan sebuah bangunan yang menjadi tempat tinggal raja. Salah satu bukti peninggalan masa lalu yang dapat ditemui salah satunya hari ini adalah Keraton Yogyakarta misalnya. Eksistensinya hingga hari ini sebagai sebuah keraton yang lahir dari pecahan kerajaan Mataram Kuno menjadi menarik untuk ditelisik. Ini juga berangkat dari maraknya kemunculan keraton abal-abal belakangan. Yang kemudian menarik ialah adanya pengadaan pameran foto keraton yang ikut dilakukan menjawab kemunculan tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah kenapa sebagian keraton di Asia Tenggara sukses dan kenapa beberapa di antaranya mati eksistensinya? Apa bedahnya keraton yang bermunculan saat ini dengan yang dulu?  Apa pesan yang ingin disampaikan oleh yang punya pameran melalui foto-foto tersebut jika diamati?.

Asia Tenggara memang unik dengan segala perbedaan kultur, bahasa, manusianya, dan juga dengan letak geografis yang telah memikat bangsa Barat menjadikan daerah tersebut koloni-koloni mereka. Hal ini membuat historisitasnya hampir sama namun berbeda dalam beberapa peristiwa yang dialami oleh negara-negara di Asia Tenggara tersebut.   

Bagaimana tidak saling terkait, Gelman Taylor dalam bukunya “Indonesia : Peoples and Histories” menjelaskan tentang bagaimana manusia menyebar dari satu lokasi yang sama ke Asia Tenggara hingga ke Indonesia dan membentuk komunitas-komunitas baru di sepanjang peta penyebaran itu. Oleh karena gelombang migrasi seperti ini, sebagian besar wilayahnya terkenal sangat heterogen. Secara historis dapat dilihat pada sejarah Indonesia yang awalnya terkenal dengan kerajaan Hindu-Buddha, lalu berganti ke kesultanan Islam, dan masa kolonalisme. Hal ini menggambarkan bahwa  tidak ada kekuasaan yang lama di wilayah ini. Kerajaan juga nampak muncul tenggelam, terlebih khusus di Indonesia. Berkaitan dengan keraton, dari sebagian keraton yang ada di Indonesia hanyalah keraton Yogyakarta yang masih eksis hingga hari ini. Kemunculan keraton abal-abal di Purworejo dan lainnya telah mengundang banyak perhatian hingga pameran foto keraton juga dilakukan.  

Kurator Hermanu adalah yang melakukan pameran tersebut di Bentara Budaya Yogyakarta dari tanggal 3-13 Februari 2020. Pameran ini pun hadir dengan maksud memberikan gambaran tentang seperti apa keraton yang ada di Nusantara ini melalui foto-foto dokumentasi pemerintah Belanda, serta menampilkan kliping koran tentang kemunculan kerajaan abal-abal di tengah masyarakat.

Dari pengamatan ketika berkunjung, saya merasa seperti melihat foto-foto historis layaknya foto klasik pada umumnya. Ketika sampai di ruang belakang, saya sedikit kaget tentang kenapa ruang yang berisi kliping koran tentang keraton abal-abal tersebut dipampang secara terpisah dengan foto yang di depan. Setelah melihat secara keseluruhan saya baru menyadari bahwa ada maksud lain yang ingin juga disampaikan secara tidak langsung oleh sang kurator.

Yang pertama, bahwa keraton yang “asli” memiliki nilai historis. Kedua, ada hubungan politik yang erat dengan pemerintah, artinya ada pengakuan atas keberadaan keraton tersebut. Hal itu tergambar dari foto ratu dan pangeran dari Belanda yang dipajang paling awal sebagai bukti akan keberadaan keraton yang “asli” tersebut. Ketiga, diperkuat dengan foto-foto kegiatan di keraton yang banyak memperlihatkan keromantisan hubungan raja lokal dan para kompeni. Keempat, bagaimana keraton ditampilkan sebagai bagian yang menyatu dengan kehidupan sosial dan budaya melalui foto kegiatan yang dilakukan di lingkungan kerajaan seperti Gerebeg Maulid. Ini mengartikan bahwa keraton mesti juga didukung oleh rakyatnya dan punya rasa hormat atas rajanya.

Itu semua adalah gambaran yang muncul di benak ketika melihat pamerannya. Saya juga menyadari tentang kenapa kliping koran diletakan di belakang karena sang kurator memang cenderung mengarahkan pengunjung untuk berkesimpulan langsung dengan membandingkan foto-foto di awal dengan berita di koran. Semua konsep tentang keraton yang “asli” itu tergambar secara sendirinya. Kenyataannya, masuknya kolonialisme cukup memberi pengaruh kuat terhadap eksistensi sebuah keraton hingga zaman ini. Uniknya, di pameran foto ini juga dipajang suasana pelantikan Ir. Soekarno menjadi Presiden RIS di Sasana Hinggil Keraton Yogyakarta 1949. Yang sekali lagi menunjukan hubungan keraton dan pemerintah modern yang baru, dalam hal ini bukan lagi kumpeni tetapi bangsa sendiri, yakni Indonesia.

Tentunya realitas kerajaan di Indonesia berbeda dengan negara Asia Tenggara lainnya. Misalnya yang pertama, Kamboja yang pernah dijajah Perancis nyatanya tidak menghilangkan sistem kerajaan yang sebelumnya sudah berjalan lama dan bertahannya sistem kerajaan pun juga karena loyalitas masyarakat terhadapnya. Kedua, dapat diambil dari negara Laos yang kerajaannya tidak sukses di masa modern. Kolonialisme Perancis di Laos dan pengaruh komunis telah mengantar kerajaan Laos menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos dan menghapuskan kerajaan Laos secara resmi pada tanggal 2 Desember 1975.

Ben Anderson dalam “Hantu Komparasi : Nasionalisme, Asia Tenggara, dan Dunia” dengan jelas menggambarkan sisi lain dari eksotisnya Asia Tenggara baik dari alam hingga politiknya. Namun jika ditelusuri lebih dalam, ada banyak hal aneh hingga misteri yang masih belum bisa dipecahkan dapat ditemukan. Salah satunya tentu tentang eksistensi kerajaan-kerajaannya, tentang ukuran yang membuatnya asli atau tidak seperti yang terjadi di Indonesia saat ini. Nyatanya pengaruh global memang tidak dapat dipisahkan bahwa perkembangan nasionalisme dan kebangsaan di wilayah Asia Tenggara ikut lahir dan terbentuk darinya.     

Bahan Bacaan :

Anderson, Benedict, 2002. Hantu Komparasi : Nasionalisme, Asia Tenggara, dan Dunia. Yogyakarta : Penerbit Qalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA