RASISME TERHADAP ORANG PAPUA

Ketika ada kelompok yang merasa superior, di situlah rasisme muncul. ketika orang Papua masih diperlakukan seperti warga kelas dua di Indonesia, maka di situ juga wacana buruk muncul, tentang tidak tahu terima kasih pada pemerintah pusat, monyet, dan sebagainya akan tumbuh subur terus-menerus dalam ingatan. 

Hasil gambar untuk rasisme
(Mahasiswa Papua dalam aksi damai di Bandung, Jawa Barat, Senin (19/8/2019). Sumber gambar : https://beritagar.id/artikel/berita/ormas-dan-oknum-tni-terduga-rasisme-papua-diperiksa )

Tanggal 16 dan 17 Agustus 2019, untuk kesekian kalinya mahasiswa Papua menerima ujaran rasis dan persekusi. Ujaran rasis dan persekusi diterimah oleh mahasiswa Papua di Surabaya yang dilancarkan masyarakat setempat, ormas reaksioner, dan beberapa personel Koramil yang juga ikut serta. Rasisme yang diterimah orang Papua bukan sekali ini, ada sejarah panjang di mana orang Papua selalu di pandang rendah.

Rasis yang lahir dari perbudakan seolah tidak hilang termakan usia. Ini menarik untuk kembali melihat ke masa kolonial di mana budak bahkan menjadi komoditas paling menguntungkan zaman itu. Menguntungkan karena melalui tangan-tangan mereka hasil pertanian berkembang baik. Namun disayangkan, mereka hanya dianggap barang dagangan semata sehingga ketika dianggap lalai ia diperlakukan tidak manusiawi.

Misalnya saja bangsa kulit hitam yang memiliki sejarah kelam sebagai orang yang dijual paksa dari negeri mereka di Afrika ke tanah-tanah koloni bangsa Barat. Diri mereka sebagai budak yang sudah tertanam di benak bangsa kulit putih bahkan masih eksis hingga di abad ke-20an. Perbudakan walaupun dihapuskan, rasisme masih tetap dipraktekkan sampai beberapa puluh tahun kemudian hingga muncul Marthen Luther King yang menyuarakan hak kaum kulit hitam untuk kesetaraan.  

Nampaknya masalah rasisme tidak hilang begitu saja. Citra kolonialisme kenyataannya banyak diadopsi juga oleh kaum yang pernah berada pada pihak terjajah. Orang Papua dipanggil monyet bukanlah hal baru yang terjadi di Surabaya. Panggilan monyet bahkan dialami mahasiswa Papua tahun 80-an hingga 90-an, bahkan itu diucapkan dalam nada gurauan. Ini persis seperti yang dialami Filep Karma ketika dirinya diajak temannya ke kebun binatang Bogor dengan mengatakan “ayo kita lihat teman-temannya Filep”. Apa bedanya orang-orang seperti ini dengan bangsa kolonial ketika mereka berbicara rasis, mereka merasa punya hak untuk berbicara dan berlaku.        

Pengetahuan akan sejarah bangsa sendiri seakan minim, ketika dengan jelas mengadopsi wacana-wacana Barat terhadap orang Timur. Tentu ada kepentingan besar terselubung yang bermain di sana, sehingga wacana tentang berbagai stereotipe yang ada di tengah masyarakat kebanyakan untuk menilai orang Papua begitu kuat hingga menjadi hal biasa. Papua dengan segala kekayaan alamnya tentu menjadi daya tarik para investor dan pemodal untuk tetap meraup keuntungan di sana, sambil menina bobokan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat Papua melalui berbagai media menstrim dengan isu rasisme dan "pembangunan" yang juga tidak berpihak pada rakyat Papua.   

Ini merupakan model atau bentuk-bentuk baru dari kolonialisme kontemporer yang perluh diperhatikan. Ada banyak pertanyaan yang berseliweran tentang Papua, yang mulai sekarang terjawab satu-satu. Tentang orang Papua demo dan berargumen tentang Papua adalah separatis, sehingga di satu sisi selalu memojokan orang Papua sendiri untuk berbicara tentang kebenaran atau ketidakadilan yang dialami selama ini. Ada ruang di mana Papua selalu dibungkam untuk mengatakan kebenaran karena wacana para elit politik tentang Papua dan separatis telah lebih dulu meresap menjadi sebuah kebenaran bagi masyarakat Indonesia kebanyakan ketika melihat dan menilai situasi Papua.

     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA