PEMEKARAN DAERAH BARU DAN SEMAKIN TERPINGGIRKANNYA SUKU ASLI DI PAPUA
Di zaman ini, trada orang yang mau hidup diperbudak orang lain dan kalau ada hal-hal tidak manusiawi seperti itu mesti dilawan. Sejarah panjang kehidupan suku-suku asli di dunia yang tergusur dari kebudayaan dan tanah leluhurnya sendiri menjadi pelajaran bagi suku asli yang masih tersisah di bumi saat ini. Tidak harus semua sejarah mesti sama sehingga mau diterimah saja semua hal baru yang masuk dan dibawa para pendatang. Ada kalanya penduduk lokal bangkit dan mempengaruhi mereka yang datang kembali jika memungkinkan, tapi jang mo memilih kalah saja dari dorang karena kalo dong pu pengaruh yang menguasai kitorang, tong yang asli-asli neh bisa jadi tergusur jauh oleh mereka dan tinggal cerita saja kawan!
(Salah satu suku asli Papua, yakni suku Mee yang sedang berdansa di atas sebuah panggung. Sumber Gambar : http://bmp-fotografer.blogspot.com/2014/11/trible-mee-festival-obano.html)
Sa
tra perlu pake bahasa yang terlalu tinggi untuk menggambarkan kitong pu
masyarakat asli. Masyarakat asli di belahan dunia mana pun mendapatkan satu
masalah yang sama, yaitu semakin terpinggirkannya dorang dari tanah sendiri
dengan kedatangan bangsa/orang luar. Kita bisa baca dari sejarahnya orang
Aborigin di Australia dan masyarakat suku Indian di Amerika. Sa merasa berada
dalam kisah-kisah perjuangan hidup suku-suku asli di berbagai belahan dunia
ketika membaca tentang suku Indian mereka.
Ada
satu hal yang membuat sa merasa menjadi bagian dari dorang pu kisah, yaitu
bagaimana cara yang orang pendatang gunakan untuk merayu suku asli dalam menguasai
dong pu tanah. Cara-cara ini kenyataannya sama dengan yang diterapkan di daerah
suku asli manapun, begitu pun di Papua zaman ini.
Bangsa
Eropa dalam hal ini Inggris yang mengklaim daratan Amerika sebagai koloninya
mereka, merayu suku Indian dengan minuman beralkohol dan tembakau dalam jumlah
besar. Terlebih minuman beralkohol adalah salah satu senjata ampuh yang
diperkenalkan oleh orang Barat, tidak hanya bertujuan untuk membawa pola hidup
tidak sehat bagi penduduk asli, tapi minuman memabukan ini juga dalam
sejarahnya banyak dipakai bangsa Barat untuk menunduhkan suku asli.
Ada
hal di luar kesadaran yang dapat saja terjadi ketika orang sudah terpengaruh
alkohol, yaitu dimanfaatkan untuk menyetujui sebuah perjanjian misalnya.
Kejadian ini kenyataanya dialami oleh suku Indian, di mana tanah-tanah mereka
semakin lama habis dikuasi para pendatang, sehingga mereka tersingkir dan
ekonomi banyak dipegang oleh orang-orang pendatang. Minuman beralkohol juga
mengajarkan pola hidup yang sebelumnya pekerja keras menjadi pemalas kerja dan
sebagainya, sehingga tanah-tanah mereka tra terurus dan orang pendatang yang
ambil ahli untuk dijadikan ladang usaha.
Ada
ungkapan mengatakan bahwa jika ingin menguasai sebuah bangsa, bunuh dan musnahkan
dulu kebudayanya. Merupakan kalimat yang dapat dimaknai secara jelas ketika melihat
kisah suku Indian dan Aborigin yang juga cukup tragis hingga ada permohonan
maaf disampaikan oleh Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd pada 13 Februari 2008 lalu mewakili pemerintah Australia kepada suku bangsa Aborigin atas kebijakan masa
lalu yang mengakibatkan puluhan anak Aborigin dipisahkan dari keluarga dan
kebudayaan mereka. Anak-anak ini dikenal sebagai generasi yang hilang.
Hari
ini Papua punya segudang masalah, beberapa di antaranya adalah minuman
beralkohol yang banyak beredar di Papua dan menjangkiti orang-orang Papua, anak-anak
sekolah yang sudah menghisap rokok sejak dini, PSK (pekerja seks komersil) yang
berdatangan ke Papua, dan pendatang yang merajalela. Di atas semua masalah yang
belum dituntaskan ini, ada program pemekaran daerah baru yang terus disuarakan saat
ini di Papua. Tidak disadari bahwa pemekaran ini sebenarnya menjadi satu pintu
besar masuknya lebih banyak hal negatif yang akan mengisolasi penduduk pribumi.
Hari
ini minuman keras di Papua bahkan dijual oleh pihak TNI-POLRI, bahkan tidak ada
pemekaran pun para pendatang sudah menduduki pelosok-pelosok tanah Papua. Sebut
saja para pendulang emas ilegal yang masuk dan belakang diketahui, misalnya
yang baru kemarin di daerah suku Korowai yang mengakibatkan kerusakan terhadap
satu-satunya sumber hidup suku asli, yakni sungai Deiram yang telah terkontaminasi
zat merkuri.
Ini
baru yang dirasakan masyarakat kecil, lalu apa yang terjadi di dunia usaha dan
kerja di Papua. Yang nampak dari orang pendatang hari ini adalah ketika mereka
sudah mendapatkan posisi kerja yang baik di Papua, keluarga terdekatnya
dipanggil satu-persatu untuk menempati posisi yang mereka pernah tempati
sebelumnya hingga berputar terus-menerus seperti itu di kalangan mereka. Hal tersebut
telah mengakibatkan melonjaknya kedatangan para pendatang di Papua hampir
setiap hari, malahan ini menjadi satu semangat baru bagi mereka. Akibat lainnya,
pengangguran semakin banyak di kalangan orang asli Papua hari ini. Kabar melalui telpon kemarin
dengan sa pu teman di Nabire adalah salah satu contohnya, di mana dikatakannya
bahwa anak-anak mahasiswa yang kembali dalam tahun kemarin belum ada yang dapat
kerja dan pengangguran semakin banyak di Nabire.
Lahan-lahan
yang dulu kosong kini dipenuhi oleh pemukiman dan ladang usaha mereka. Daratan
Amerika yang didiami suku-suku Indian juga ditempati dan dirampas dengan jalan
yang lick dan keji, yakni melalui peristiwa pembantaian yang terjadi, membuat pemerintah
pusat mengeluarkan peraturan baru yang mengkhususkan orang pribumi di satu
tempat. Ini membuat orang-orang pendatang menempati tempat-tempat yang ada secara
leluasa. Kota Oklahoma adalah satu-satunya kota yang selanjutnya diperuntuhkan khusus untuk suku-suku asli oleh para pendatang yang di kemudian membangun negara bernama Amerika.
Di
Papua hari ini tong tahu pengaruh-pengaruh buruk apa saja yang su masuk, yang
bersifat merusak budaya dan tradisi suku asli dan berdampak pada pengaruh pola
hidup yang buruk bagi orang Papua, baik melalui minuman keras yang beredar
leluasa dan membuat orang-orang seakan menjadikan mabuk-mabukan sebagai hal
yang biasa. Hal mengerikan yang terjadi dari kebiasaan ini adalah kerusakan
otak yang dapat mengarah pada gangguan kejiwaan, seperti kecemasan, depresi,
hingga skizofrenia pada para konsumtif. Terlupakannya suku Amerika asli hari ini
berawal dari tipu daya bangsa Barat dengan alkohol, disuguhkannya wanita Eropa dengan
berbagai kenikmatan lainnya, serta nasib kelam anak-anak Aborigin yang tidak
tahu jati diri mereka karena diambil paksa pemerintah dari keluarga mereka adalah
peristiwa yang tidak harus dialami lagi oleh orang asli Papua. Mesti ada
kesadaran bahwa mengonsumsi alkohol dan pemekaran di mana-mana hanya membawa
keuntungan bagi para pendatang dan lebih pentingnya mengutamakan sikap ke arah pengembangan masyarakat
lokal.
Di
atas semua itu tanah mesti dijaga, jang main jual dan kasih ke orang-orang
pendatang karena kita pu hidup ada di situ. Ketika tanah dong rampas, hal-hal
lain dong bisa taklukkan dengan mudah dan orang asli tinggal jadi kayak tamu di kampung
halaman sendiri. Maka itu selalu ingat kata-kata alm. Uskup Mgr. John Philip Saklil, bahwa
“ hai orang asli Papua, jangan jual ‘Dusun Sagu’. Jangan juga kamu jual ‘Dusun
Bertani’. Kalau ‘Dusun Sagu’ hilang, kamu mau makan Kelapa Sawit kah? Kalau dusun
berkebun hilang, kamu tahu tanam Padi kah?”.
Komentar
Posting Komentar