LEGENDA TERBENTUKNYA DANAU PANIAI (VERSI KELUARGA)

Danau Paniai yang berada di ketinggian 1.752 m di atas permukaan laut, merupakan danau yang luasnya sebesar 154 km.[1]  Danau Paniai beserta danau Tage dan Tigi, dulunya dikenal dengan danau-danau Wissel yang disesuaikan dengan nama penemunya, yakni Frits Julius Wissel (1907 – 1999).[2]  Danau Paniai adalah salah satu danau yang terletak di kabupaten Paniai, provinsi Papua. Ada banyak versi cerita tentang terbentuknya Danau Paniai ini, namun pada kesempatan ini, penulis akan menceritakan legenda terbentuknya danau Paniai dalam versi yang penulis dengar dari keluarga terdekat.


(Danau Paniai dengan aktifitas dua ibu yang sedang mencari ikan dan udang pada senja hari. Sumber gambar : http://bmp-fotografer.blogspot.com/2015/09/two-boats-on-lake.html)

.....
Dahulu kala, di daerah yang saat ini dikenal dengan Paniai, terdapat sebuah lembah yang sangat besar dan luas. Di tengah-tengah lembah yang nan hijau tersebut, terdapat juga sebuah telaga yang konon sangat sulit untuk dilewati oleh manusia karena sangat dalam. Ada pun masyarakat yang mendiami daerah ini menyebut diri mereka dengan sebutan Me yang artinya manusia. Orang Me menjadikan lembah hijau ini sebagai tempat untuk mencari bahan makanan sehari-sehari, seperti mencari kus-kus pohon dan babi hutan dengan cara memasang jerat. Pada dasarnya lembah ini memberikan kehidupan bagi orang Me dalam bertahan hidup.

Kegiatan masyarakat di lembah ini terus berlanjut hingga tiba pada suatu hari, di mana secara tidak sengaja masyarakat menemukan sebuah rumah yang berdiri sendiri di tengah-tengah telaga yang berada di dalam lembah tersebut.  Posisi berdirinya rumah yang persis berada di tengah telaga, sontak menarik perhatian masyarakat tentang siapa yang hidup tersendiri di sebuah lokasi yang tentunya bukan strategis lagi. Rasa penasaran masyarakat yang semakin tinggi terhadap rumah tersebut, pada akhirnya membuat mereka mulai mencoba untuk dapat sampai ke rumah tersebut dan ingin segera melihat siapakah gerangan orang yang tinggal di rumah itu menyendiri seorang diri, bahkan di tengah rawa atau telaga.

Pada keesokan harinya, masyarakat mulai mencoba dengan segala cara untuk bisa sampai ke rumah tersebut, namun tidak dapat sampai ke sana karena ternyata telaga tersebut sulit untuk di lewati sebab sangat dalam. Masyarakat mencoba dengan banyak cara, salah satunya dengan mencoba masuk dari arah yang berlainan yaitu dari arah barat, timur, selatan, dan utara, tetapi hasilnya tetap tidak dapat melewati telaga tersebut.

Pada akhirnya sampailah pada suatu pagi, di mana masyarakat ini mulai menyiapkan diri untuk pergi berburu lagi kembali ke lembah tadi sembari melihat-lihat rumah tersebut dari kejauhan, namun apa yang mereka dapati yang tadinya lembah yang sangat hijau nan indah itu kini telah tertutupi oleh air. Peristiwa itu terjadi hanya dalam sekejap, yaitu pada malam hari dan masyarakat ini juga keheranan melihat apa yang sudah terjadi. Bukan hanya heran terhadap air danaunya saja, namun oleh warna airnya yang biru pekat juga membuat sebagian masyarakat ketakutan.

Tertutupnya lembah tersebut, oleh pemahaman orang-orang ini disebabkan karena orang atau sosok yang tinggal di tengah-tengah telaga tersebut marah. Kemarahan yang disebabkan oleh karena telah mengganggu ketenangannya itu, telah membuat telaga yang kecil itu merubah lembah menjadi sebuah danau yang besar hanya dalam semalam dan hal ini dianggap sebagai sebuah peringatan supaya masyarakat senantiasa berdamai dengan alam.

Kondisi ini secara perlahan menyadarkan masyarakat akan pentingnya manusia berdamai dengan alam. Sejak saat itu pula masyarakat Me dari beberapa marga yang pertama mendiami daerah ini mulai sepakat untuk membuat upacara adat serentak secara bersamaan, yakni upacara bakar batu atau potong babi (salah satu hal yang masih dilakukan sampai saat ini yang dianggap sebagai salah satu lambang perdamaian bagi suku Me kepada sesama manusia maupun kepada alam) untuk berdamai dengan alam paniai, terlebih kepada air yang bergelora. Dari upacara ini masyarakat berharap bahwa mereka dapat kembali bersahabat dengan alam yang telah memberi hidup melalui tumbu-tumbuhan dan hewani kepada masyarakat.

Dari kejadian ini, orang Me selanjutnya mulai belajar bagaimana cara supaya mereka tetap saling berhubungan dengan marga atau saudara mereka yang berada di sisi danau yang lainnya. Oleh sebab itu, untuk pertama kalinya masyarakat mulai tahu dan belajar membuat perahu, mereka juga belajar menangkap ikan dan udang di danau, serta yang paling penting adalah menanam pohon-pohon besar di pinggiran danau sebagai tanda persahabatan mereka dengan alam.

Jadi, danau ini dianggap sebagai jelmaan seorang manusia yang marah karna diganggu keberadaannya oleh masyarakat setempat. Pada akhirnya, kemarahannya membuat air menutupi lembah tersebut hanya dalam satu malam. Hal ini memang sulit untuk digambarkan oleh masyarakat Me karena mau musim hujan atau tidak, air danau ini akan selalu naik terus jika ia mau naik, bahkan sampai merendam perumahan masyarakat yang berada di tepian danau, namun jika air danau ini surut maka dia akan surut terus hingga kering bagian tepiannya.
.....

Itulah di atas, cerita singkat tentang legenda terbentuknya danau Paniai versi dari apa yang penulis dengar. So, apa versi kalian?

Sumber Bacaan :
Pigai, Elsada Mudewa, 2018. “Pendudukan Jepang di Onderafdeling Wisselmeren 1935-1944”. Skripsi, Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma. 
 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Danau_Paniai, di unduh pada 02 November 2019.




[2] Wissel ialah seorang  pilot Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang ditugaskan di Nederlands Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM). Pada hari penemuannya 1 Januari 1937, sebenarnya ia tidak pernah melalui rute penerbangan melewati pegunungan tengah Papua, namun penerbangannya saat itu membawa ia pada penemuan daerah baru sekaligus. Lihat  Elsada Mudewa Pigai, 2018. “Pendudukan Jepang di Onderafdeling Wisselmeren 1935-1944”. Skripsi, Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma. Hlm. 18-17.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA