BOVEN DIGOEL, PAPUA : TANAH BUANGAN PARA KOMUNIS DARI JAWA 1926-1927

Gubernur Hindia Belanda berinisiatif membuka sebuah penjara alam yang sangat jauh dan liar. Pemerintah Belanda selanjutnya memilih Boven Digoel sebagai sebuah lokasi strategisnya. Sebuah penjara yang kemudian menjadi rumah tahanan baru bagi para pemberontak, di antaranya adalah orang-orang golongan kiri dan juga bagi yang dirasa berbahaya bagi kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di tanah jajahan. 

Rumah-rumah para tahanan di Boven Digoel. 
(Sumber gambar : https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Kamp-digul.jpg&filetimestamp=20140516005449)

“Kalau pada satu pihak tuntutan politik akan otonomi dan pemerintahan demokratis semakin gencar, pada pihak lain golongan kiri berdasarkan analisis historis materialistisnya hendak melancarkan perjuangan kelas melawan imperialisme beserta kapitalismenya. Sebagai sumber radikalisme dan agitasi gerakan kiri dengan sifat konsumtif terus menerus mengalami eskalasi dan akhirnya meledak pergolakannya pada tahun 1926.”[1]
Perbedaan pandangan antara para nasionalis dan para golongan kiri sangat berbeda. Seperti halnya apa yang ada dalam kutipan di atas bahwa yang mereka inginkan, terlebih bagi golongan kiri inilah yang kemudian memicu terjadinya pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) tahun 1926 hingga merambat ke berbagai daerah di Indonesia sampai 1927. Hal ini membuat pemerintah Belanda lebih ketat mengontrol sampai menjaga setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh semua partai, terlebih gerakan PKI.
Latar belakang ekonomi di Indonesia pada waktu itu secara signifikan mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini disebabkan oleh pemerintahan Gubernemen Hindia Belanda yang melakukan politik penghematan. Politik penghematan tersebut membuat sebagian besar pekerja ikut diberhentikan dan juga dilakukan penarikan pajak secara besar serta pemotongan gaji para pekerja. Akibatnya, golongan sosial yang paling bawah yang adalah kaum buruh dan para petani yang merasakan keresahan. Keresahan ini mulai memuncak ketika untuk kedua kalinya masyarakat mendengar akan adanya penghematan lagi. Keresahan tersebut, sebelumnya telah mulai ada di tahun 1923 dimana dalam tahun ini terjadi pemogokan-pemogokan yang dapat dikatakan masih tidak sehebat atau sebesar gerakan PKI di tahun-tahun berikutnya, seperti pada 1926-1927.
Pemberontakan komunis 1926-1927 diagendakan oleh dua orang tokoh pemimpin PKI di tahun 1920-an, yakni  Alimin bin Prawirodirdjo (1889-1964) dan Paul Mussotte (1897-1948) yang dipanggil juga sebagai Musso. Pada saat gerakan PKI terjadi, posisi dua tokoh tersebut berada di luar Indonesia yaitu salah satunya membicarakan agenda pemberontakan dengan Tan Malaka (1897-1949). Saat setelah pembicaraan berlangsung, Tan Malaka langsung tidak menyetujui agenda dua tokoh itu.
Penolakan itu dilihat dari kondisi Indonesia pada waktu itu, selain karena kebanyakan massa yang ingin digerakan adalah petani dan bukan buruh. Oleh karena jumlah buruh yang sedikit juga, maka menurut Tan gerakan sedemikian besar tersebut tidak cocok dilakukan. Ketidak persetujuannya kemudian dituangkannya dalam sebuah pamphletnya yang berjudul Menjadi Republik Indonesia (1925). Bukan hanya sekedar melihat kebanyakan massa yang adalah petani, tetapi Tan Malaka juga takut akan belum siapnya massa dalam melaksanakan agenda aksi tersebut dan jika itu terjadi maka takutnya pemerintah Hindia Blelanda akan menumpas habis PKI dengan hegemoninya.
Pemberontakan PKI akhirnya pecah dan terjadi pada bulan November 1926. Pemberontakan tersebut terjadi bahkan sebelum dua tokoh yang pergi bertemu Tan Malaka di luar negeri itu belum sampai ke Indonesia. Dua tempat yang menjadi pusat dilaksanakannya aksi tersebut adalah di Jawa, letaknya di kota Banten/Batavia dan di Silukang, Sumatera Barat. Mendengar berita ini Tan Malaka sangat frustasi karena selain tidak mendapat banyak informasih yang jelas mengenai keorganisasian PKI di Indonesia, juga tentang perkembangan politik yang sedang terjadi.[2]
Situasi pemberontakan PKI yang terjadi tahun 1926-1927 dianggap suatu ancaman besar bagi kaum kolonial Belanda. Berangkat dari situasi itu, maka pemerintah berinisiatif membuka satu kamp yang sangat jauh dan tidak dapat dijangkau oleh masyarakat. Selain tempatnya yang sangat jauh dan sulit, tempat ini dipilih juga supaya para tawanan yang di asingkan di sana dapat melupakan apa yang telah mereka perjuangkan.
Pemberontakan itu membuat pemerintah Belanda mencurigai siapapun, entah itu masyarakat maupun tokoh-tokoh Nasionalis besar Indonesia. Tahun 1927 beberapa orang yang diduga terlibat berhasil dikirim ke Boven Digoel, Papua. Bahkan di tahun 1935 beberapa pemimpin nasional yang di tangkap kemudian diasingkan ke sana. Beberapa tokoh nasional tersebut adalah Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan beberapa tokoh lainnya dari PNI (Partai Nasional Indonesia).
Dalam beberapa tahun saja kamp Digoel telah diisi oleh ribuan orang karena sebagian tawanan yang ada, juga membawa serta anak dan istri mereka. Bahkan beberapa istri para penghuni penjara tersebut melahirkan di sana. Banyak hal yang dialami oleh para tahanan di penjara Digoel sampai awal tahun 1943, pada akhirnya mereka dikirim ke Australia karena pecahnya perang Dunia II dengan diinvasinya Hindia Belanda oleh tentara Jepang. Menangnya Sekutu dalam perang tersebut membawa harapan baru bagi para tawanan, harapan untuk dapat kembali ke negara asal.
Walaupun penjara ini hanya beroperasi dalam beberapa tahun, tetapi Boven Digoel telah menjadi tempat yang menyaksikan perjuangan rakyat Indonesia melawan hegemomi pemerintah Belanda. Dalam hal ini tentang betapa gerakan PKI begitu mencapai puncaknya, sampai ada penjara yang dibuat khusus dengan tujuan terselubungnya pemerintah Belanda yaitu agar melupakan gerakan perjuangan mereka melawan kolonial Belanda dengan suasana penjara yang sedemikian rupa. Rupa tersebut dapat ditebak dari sebutannya, yakni penjara alam Boven Digoel   

Bahan Bacaan :

Kartodikromo, Mas Marco, Kisah Nyata: Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002.
Kartodirdjo, Sartono, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional: dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid 2. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Moedjanto, G, Dari Pembentukan Pax Nederlandica sampai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2003.
Nasir, zulhasril, Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau. Yogyakarta : Ombak, 2007.



[1]Dikutip dari, Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid 2. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993. hlm. 145.
[2]Nasir, zulhasril, Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau. Yogyakarta : Ombak, 2007. Hlm. 47-48.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA