KERAMIK DAN PERKAKAS PERUNGGU DI PAPUA

Piring kaca atau keramik yang selama ini banyak digunakan oleh orang-orang pesisir dalam acara perkawinan dan hari-hari besar lainnya ini, kenyataannya punya cerita sejarah yang panjang. Bagi para pedagang Cina yang pernah sampai hingga ke Papua, melihat keramik hanya sebagai barang dagang mereka, namun ketika berpindah tangan ke orang Papua, nilai dari keramik juga ikut berubah sesuai dengan kebudayaan setempat. Lalu bagaimana sejarah sampainya barang-barang perunggu dan keramik itu ke Papua? 
(Seorang ibu Papua memperlihatkan koleksi keramik Cinanya. Sumber gambar : https://suarapapua.com/2018/12/02/keramik-tiongkok-alat-tukar-yang-membudaya-di-papua/)
 Perkakas perunggu yang ditemukan di Papua bukanlah berasal dari Papua karena orang Papua tidak mengenal besi dan logam. Kenyataannya ini dapat menandahkan bahwa ada kebudayaan yang dihasilkan dari sebuah hubungan perdagangan antara orang lokal Papua dan pedagangan dari luar Papua.
Keramik atau perkakas perunggu ini, sampai di masyarakat Papua melalui proses perdagangan yang cukup panjang, yakni melalui kontak dengan Dongson, Majapahit, dan Tidore. Alat-alat yang sesungguhnya berasal dari negeri Tiongkok ini dapat sampai ke Papua melalui tangan ke tangan. Di samping itu, kedatangan etnis Tionghoa pada masa perdagangan rempah-rempah di bagian Timur Nusantara sampai di pulau Papua juga telah sekaligus ikut turut memperkenalkan barang-barang berupa keramik dan juga perkakas perunggu ini.
Kedatangan orang-orang Tionghoa ini dipicu oleh maraknya perdagangan rempah-rempah di Nusantara saat itu, di mana hasil bumi seperti cengkeh, kayu cendana, dan kasuari berasal. Namun, kaitannya dengan di Papua, komoditas utama yang paling dicari di abad-abad ke 17-18 adalah budak dan bulu burung cendrawasi yang pada saat itu sedang marak digunakan di kalangan bangsawan Eropa dan Amerika.[1] 
Ketika para pedagang Tionghoa ini datang, yang dijadikan sebagai alat tukar mereka adalah keramik, kain, pisau, dan porselin. Pada dasawarsa-dasawarsa berikutnya, keramik-keramik ini dikumpulkan dan menjadi pusaka bagi keluarga di Papua yang sangat berharga, salah satunya kelak dijadikan sebagai alat maskawin.[2] Nilai sebuah keramik pada saat ini menjadi sebuah aset budaya yang sangat berharga bagi orang Papua dan itu juga berlaku bagi beberapa suku yang mendiami daerah pesisir.[3]
 Mengenai teknologi, Papua sudah mulai mengenalnya sejak kemunculan logam 2000 tahun yang lalu di Indonesia. Melalui banyak perantara, barang logam ini dapat sampai ke daerah Timur hingga ke Papua, bahkan orang Papua sendiri dikatakan tahu membuat barang yang hanya diproduksi sekitar 2400/2100 tahun yang lalu di bagian utara Vietnam, misalnya seperti tombak dari kayu atau bambu dan dari besi impor.[4] Sebuah sumber tertulis dari tahun 1606 yang ditulis oleh seorang berkebangsaan Spayol mengatakan bahwa, para penjelajah dapat meyaksikan para pandai besi dari papua menempa besi jadi kapak dan harpun yang digunakan untuk berburu binatang besar seperti ikan paus.[5]
Barang-barang teknologi yang sampai ke Papua, sebagiannya adalah hasil jarahan kapal lain atau pemberian dari Sultan Tidore atas kesetian mereka. Seperti diketahui bahwa sebagian pesisir Papua masuk dalam wilyah kerajaan Tidore dan kemungkinan barang besi yang dibuat jadi tombak dan harpun ini mereka pelajari dari orang-orang Tidore.[6]
Selain dibawa oleh orang Tionghoa seperti yang sudah dijelaskan di depan, bisa juga keramik dan perkakas perunggu ini dijadikan alat tukar oleh orang Jawa yang telah sampai ke Papua abad ke-14 dalam mencari kulit kayu Masoi yang pada saat itu digunakan dalam industri jamu, minyak gosok, dan pewarna pada batik di Jawa.  Hal ini mengacu pada ungkapan dalam karya dari seorang pujangga keraton bernama Prapanca, yakni Nagarakartagama tahun 1365. Karya ini memuat daftar wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit yang diantaranya menyebutkan salah satu wilayah paling Timur yang bernama Wwunim (Onim) yang mengacu pada daerah Fak-fak dan semananjung Bomberai sebagai wilayah kekuasaan Majapahit.  
Papua yang tergolong sebagai daerah yang sama sekali tidak mengenal barang logam ini kemudian secara perlahan diperkenalkan oleh para pedagang dari luar kebanyakan, sehingga beberapa barang yang ditinggalkan tersebut kemudian menjadi berharga bagi orang Papua di daerah pesisir hingga saat ini. Sebagai contohnya seperti keramik Cina yang sudah dijelaskan di atas, di mana barang ini digunakan dalam acara perkawinan maupun sebagai alat untuk menjemput tamu-tamu istimewa dengan cara tradisi injak piring. Maka, dari sana dapat ditemukan ada pencampuran dua budaya yakni dari luar dan dalam melalui benda-benda seperti keramik ini.



[1]Bulu burung cendrawasi pada masa itu marak di kalangan bangsawaan Eropa dan Amerika karena bulu-bulunya yang cantik. Pada awalnya ini dikirim ke Asia, kemudian perdagangannya meluas hingga ke Eropa sekitar abad ke-19. Bulu yang diambil dijadikan sebagai aksesoris di topi para wanita bagsawan dan dipakaian para prajurit. Pada tahun 1904-1908 terdata 155.000 burung cendrawasih terjual pada lelang di London dan ini belum termasuk perdagangan di tempat dan tahun yang lain. Tidak heran bahwa sekarang, spesies burung cendrawasi ini menjadi sangat langka dan mengenai budak, dapat dibaca di Lisa Suroso, Cerita Ciko di Bumi Cendrawasi. http://lisasuroso.wordpress.com/2009/12/29/cerita-ciko-di-bumi-cendrawasih/, diunduh pada tanggal 09 Mei 2016.
[2]Lisa Suroso, Keramik Tiongkok, Alat Tukar yang Membudaya. http://lisasuroso.wordpress.com/2009/12/29/keramik-tiongkok-alat-tukar-yang-membudaya/#more-190, diunduh pada tanggal 09 Mei 2016.
[3]Daerah pedalaman Papua yang sangat sulit ditembus dapat dilihat dari topografinya yang sangat terjal, sungai-sungai yang sulit diseberangi walaupun ada jembatannya, tetapi itu juga adalah jembatan gantung yang sangat berbahaya. Daerah pesisir yang menjadi tempat persinggahan atau perdagangan oleh para pedagang dari luar membuat barang-barang dari logam masih dapat dijumpai sampai saat ini. Jadi, keramik ini dengan mudah  dapat menyebar di antara orang-orang  pesisir karena daerah pedalaman sendiri baru lebih dikenal setelah dikirim ekspedisi besar-besaran oleh Gubernur Hindia Belanda dan barang-barang logam sendiri juga baru diperkenalkan oleh orang Eropa akhir tahun 1930an. Lihat Kal Muller, Mengenal Papua. Daisy World Books, 2008. Hal. 108-111.
[4] Ibid. Hal. 80-83.
[5] Ibid.
[6]Muridan Widjojo, Pemberontakan Nuku: Persekutuan Lintas Budaya di Maluku Papua Sekitar 1780-1880. Terjemahan, Gatot Triwira. Depok: Komunitas bambu, 2013.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIMPANGAN SOSIAL YANG MENGAKAR DI PAPUA

CANOEING FOR THE FIRST TIME

10 HAL YANG MEMBUATKU BAHAGIA