LISTRIK : PROBLEMATIKA ORANG JAWA DAN KENYATAAN DI LUAR PULAU JAWA
Sangat menyedihkan ketika melihat mereka yang mampu dan sudah
dienakkan dengan berbagai fasilitas modern yang lengkap dan dengan harga yang
terjangkau, namun masih merasa pemerintah tidak peduli. Di saat orang-orang di
luar pulau Jawa harus menerimah keadaan mereka akan ketiadaan berbagai hal yang
seharusnya dinikmati juga oleh mereka, tetapi semuanya hanya mentok di pulau
Jawa semata dengan orang-orangnya yang kurang bersyukur.
(Sumber gambar :https://finance.detik.com/energi/d-4131146/dialiri-listrik-pln-desa-di-pedalaman-papua-ini-tak-gelap-lagi )
Masalah
pemadaman listrik yang melanda ibu kota Jakarta dan sebagian daerah di Jawa beberapa
waktu lalu menjadi berita besar hingga dibahas di berbagai program
TV nasional. Hal ini mencuat ketika ada protes dari berbagai kalangan
masyarakat yang merasa terganggu dengan keadaan tersebut di pusat kota Jakarta.
Hebatnya lagi, protes itu juga menjadi perhatian utama dan membuat PLN diminta
memberikan ganti rugi kepada masyarakat yang terdampak mati lampu dan mengalami
kerugian.
Saat
saya belajar soal sejarah Eropa, saya juga sempat mempelajari soal sistem
kapitalisme dan berbagai dampak negatif dan positif yang dapat diakibatkannya. Secara
positif, memang membawa banyak perubahan dan peluang yang bebas dan besar dalam
berbagai hal, namun juga membawa dampak negatif yang luar biasa, dimana
masyarakat menjadi semakin konsumtif dan selalu menginginkan hal yang lebih
terus-menerus. Di samping itu, ketidakpuasaan akan apa yang dimiliki juga
semakin tinggi, sehingga kebutuhan untuk memerlukan hal baru, barang baru,
bahkan dalam hal bersaing dan keinginan untuk memiliki yang lebih dari orang
lain menjadi besar.
Ketika
membaca, memahami dan melihat keadaan di sekitar, saya juga mulai memahami
dampak-dampak tersebut. Ironisnya, mereka yang mendapat dampak paling parah
adalah orang-orang menengah ke atas. Untuk zaman seperti sekarang, memang
listrik menjadi harapan bagi semua kalangan karena pekerjaan semakin dimudahkan.
Mati lampu di daerah kota, apalagi seperti Jakarta dapat membawa dampak yang
cukup besar karena selain sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga sebagai kota
metropolitan. Dampak mati lampu yang paling parah di kota besar tentu membuat
sebagian besar pekerjaan terhenti dan berlanjut dengan kerugian.
Ironisnya,
ketika mati listrik di ibu kota dan beberapa kota lainya di Jawa, ini menjadi
masalah besar hingga dijadikan topik pembicaraan beberapa hari belakang. Di sisi
lain ada daerah-daerah yang semestinya menjadi perhatian utama dalam masalah
ini malahan tidak disinggung. Bahkan dalam sebuah wawancara di TV, seorang narasumber
mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang sedang berkembang menuju ke
negara maju dan mati listrik seperti itu tidak seharusnya terjadi di Jawa, jika
di luar Jawa itu tidak jadi masalah dan narasumber tersebut mengambil satu
contoh ialah Palu. Jawabannya sekarang adalah jika kenyataannya seperti itu, harusnya
perlakuannya merata di seluruh Indonesia dan bukan hanya mentok di pulau Jawa
yang sedikit masalah saja menjadi besar, padahal yang paling parah terjadi dan
membutuhkann perhatian khusus adalah daerah-daerah di luar pulau Jawa.
Semestinya
masyarakat yang banyak protes soal pemadaman listrik hingga meminta ganti rugi
ini harus mengetahui juga bahwa ada ribuan masyarakat Indonesia di luar sana
yang rumah dan desanya belum sama sekali dialiri listrik. Jikapun ada, lampu
hanya menyala setengah hari atau hanya pada malam hari hingga dimatikan tengah
malam. Dengan kondisi demikan parah, mereka bahkan tidak protes bahkan memintah
harga lilin kepada pemerintah dan pemerintah juga mungkin tidak mau tahu soal
itu.
Jika
ingin mengatakan berlebihan, ya sangat berlebihan. Sudah hidupnya dimudahkan
dengan adanya listrik yang hidup 24 jam dan hanya dipadamkan sesaat, namun
masih minta dimudahkan terus menerus. Memang belakang harga listrik juga
semakin naik dan dengan pemadaman seperti itu tentu muncul protes, namun ada
baiknya memposisikan diri dengan baik bahwa hidupmu lebih terang dan enak
ketimbang mereka yang hidup di lembah, pegunungan, dusun, dan kampung-kampung
yang bahkan jauh dari jangkauan pemerintah, namun rindu untuk tinggal dan
beraktifitas dalam terang.
Tahun
2000-an awal, saya juga sempat bertanya kepada orang tua tentang kenapa di
daerah kami lampu hidup jam 08:00-13:00 siang dan kembali dihidupkan lagi pada
jam 18:00-00:00? Kenapa lampu di sini tidak seperti di daerah lain, menyala 24
jam? Jawaban yang selalu saya dapat adalah minyaknya terbatas dan jika mati
listrik berhari-hari, biasanya karena alat rusak dan minyak habis. Untuk
meminimalisir itu, terkadang kami menggunakan genset untuk menyalakan lampu,
jika ada hal penting ynag sedang dikerjakan. Problems yang diberitahu jika ada pemadaman listrik terjadi di
tempat kami ialah beberapa hal di atas. Walaupun demikian kenyataannya, saya
pun terbiasa dengannya dan berhenti mempertanyakan hal tersebut setelahnya.
Kenyataan
lain yang saya lihat di sekitar juga ialah adanya banyak kampung-kampung yang
masyarakatnya masih tidur dalam kegelapan malam. Selain itu, merasakan langsung
bagaimana hidup dalam kegelapan dan hanya mengandalkan lilin dan terangnya
senter setiap berlibur dari kota kabupaten ke kampung kedua orang tua. Di samping
itu, setiap melihat para sepupu datang dari kampung dan melihat wajah bahagia
mereka ketika kami mulai kumpul di ruang TV menonton bersama, saya sadar bahwa
saya hanya kurang bersyukur dan bersabar.

Komentar
Posting Komentar