PAPUA DALAM INDONESIA DAN BAU IMPERIALISME
Bau imperialisme modern yang masuk secara perlahan di antara orang Papua, kini semakin nyata kekuasaannnya. Apa yang mesti orang Papua perbuat?
Imperialisme
adalah kata yang kebanyakan dipakai untuk menyebut negara-negara yang secara
paksa mengambil dan menempati suatu wilayah dengan tujuan untuk menguasai kekayaan alam wilayah yang
diambil. Di masa kini, imperialisme modern lebih banyak disebabkan oleh alasan ekonomi. Keinginan-keinginan mereka di
dalamnya ialah untuk menjamin suburnya sebuah industri, untuk mendapat kekayaan
dari suatu negara, dan keinginan untuk menguasai perdagangan.
Contoh
besar yang dapat dilihat dari perlakuan negara-negara Eropa pada zaman penjajahan,
khususnya di daerah jajahan ketika imperialisme sedang gencarnya adalah hal-hal
yang bersifat merusak tatanan sosial, politik, ekonomi bahkan lingkungan di negeri-negeri
jajahan. Semua tatanan diubah secara berskala sesuai dengan gaya hidup masyarakat
Barat, sehingga secara perlahan tatanan asli masyarakat di negeri jajahan hilang.
Oleh karena sistem yang diperkenalkan atau dipaksakan tersebut tidak sesuai,
sebagian masyarakat di negeri jajahan mengalami dilema, bahkan trauma
berkepanjangan. (Rudiaji Mulya, 2014
: 9-10)
Pertanyaan
yang muncul sekarang adalah apakah Indonesia masuk jadi salah satu negara
imperialis masa kini? Hal ini berkaitan dengan sejarah polilik Papua di masa
lalu serta berbagai masalah yang timbul sesudahnya, misalnya bangkitnya OPM (Organisasi
Papua Merdeka) sebagai bentuk protes dan perlawanan orang Papua terhadap hasil Pepera
yang curang, masalah HAM (hak asasi manusia) yang tidak kunjung dituntaskan,
dan masalah yang muncul belakangan seperti ketimpangan sosial antara orang
Papua dan para pendatang, belum lagi masalah yang paling sering dialami orang
Papua pada umumnya, yakni rasisme. Selain hal-hal di atas, ada banyak masalah
yang dihadapi orang Papua hingga dewasa ini.
Terbunuhnya
100.000 orang Papua sesuai laporan Amnesty
Internasional dalam meredam bangkitnya OPM pada masa-masa Pepera adalah cerita
kelam perkenalan orang Papua dengan NKRI, yang untuk pertama kali menginjakkan
kaki di Papua saat keputusan Pepera dikeluarkan. Melihat perlakuan pemerintah
Indonesia terhadap orang Papua saat itu, tentu bukan hal baik bergabung dengan
NKRI. Kenyataan saat bersama Belanda, orang Papua tidak mengalami diskrimasi bahkan
pembunuhan, seperti yang dilakukan pemerintah Indonesia pada masa Pepera ini,
sehingga ada perlawanan ketika sikap yang diterima orang Papua adalah buruk.
Peredaman
pemerintah Indonesia atas bangkitnya rasa nasionalisme di tengah orang Papua
terus belanjut dalam tahun-tahun selanjutnya. Faktanya, sebagian besar orang
Papua yang dianggap memiliki potensi menggerakan massa dan semangat identitas secara
tidak terduga menghilang hingga ditemukan meninggal secara misterius. Ambil saja
satu contoh, antropolog, musisi, dan budayawan bernama Arnold Ap yang ikut
membentuk grup musik Mambesak 15 Agustus 1978, ditangkap oleh Kopasandha pada
30 November 1983 dan ditemukan meninggal secara misterius pada 26 April 1984. Kematian
secara misterius seperti ini masih dapat ditemui pada orang Papua hingga saat
ini.
Tidak
sampai di sana, kebijakan pemerintah Orde Baru dalam penyamarataan pangan di
Indonesia yang di lain sisi membuat penduduk yang tidak mengkonsumsi beras
semakin menderita dengan paksaan ini. Dampak berkepanjangan dari kebijakan ini, orang Papua menjadi komsumtif
beras padahal mereka bahkan tidak tahu cara pembudidayaan padi. Sebagian besar
orang Papua sudah tidak berkebun berbagai umbi-umbian karena mereka tahu akan ada
beras raskin untuk mereka. Dapat dikatakan bahwa, hanya 10% sampai 20% orang
Papua yang masih bertahan dengan sistem pertanian lokal hingga saat ini, hal
ini penting agar tidak terlalu tergantung hidup pada beras yang datang dari luar
Papua.
Dengan
orang Papua yang tidak tahu pembudidayaan padi, membawa pintu usaha baru bagi
para pendatang untuk membuat lahan padi dan berusaha di Papua. Orang Papua yang
telah menjadi konsumtif dewasa ini, memperkaya orang-orang pendatang dengan membeli
hasil usaha mereka karena kebutuhan tersebut, ketimbang membeli dagangan orang
Papua. Ironisnya juga, barang yang diperjualbelikan orang Papua, kini dijual
juga oleh para pendatang, sehingga muncul ketimpangan sosial yang semakin parah
di Papua.
Tipe
adanya bau imperialisme telah terbukti juga dengan diberikannya karpet merah untuk
mendirikan perusahaan asing di Papua oleh pemerintah Orba, yakni PT. Freeport. Selain
merusak alam, dengan keberadaan perusahaan ini masyarakat pemilik tanah yang
bernaung di bawah tambang Grasberg terkhusus dan orang Papua pada umunya sengsara.
Kenyataanya ini hanya menguntungkan para kapitalis dan kaki tangan mereka.
Jika
kenyataan di Papua seperti di atas, apa yang mesti dilakukan orang Papua? Banyak
hal dapat dipelajari dari catatan sejarah dan para tokoh yang telah mendahului
kita agar indentitas kita sebagai orang Papua tetap hidup. Orang Papua sejak
nenek moyang dapat hidup berkembang dari memakan umbi-umbian dan ikan di laut,
bukan beras. Orang Papua hidup dari semangat akan tari-tarian yang diiringi
nyayian-nyayian. Orang Papua dapat hidup dan menjadi tuan di atas tanah sendiri
dengan rajin bekerja, mendukung usaha sesama orang Papua dengan cara membeli
prodak-prodak orang Papua dan tetap utamakan kasih. Hal mendasar yang mesti
orang Papua tahu adalah sejarah Papua, karena di sekolahan sekarang ini sejarah
Papua hanya dijelaskan sebatas perebutan Irian Barat, maka membaca buku-buku
tentang Papua penting. Hal mendasar kedua yang orang Papua mesti tahu dan pegang
ialah budaya sendiri, karena kekuataan dan jiwa kita sesungguhnya berada di sana
dan ingat bahwa Arnold AP bersama teman-teman membentuk grup Mambesak juga
didasarkan oleh semangat itu, bahwa ada semngat hidup, semangat perjuangan,
semangat kebersamaan, dan identitas diri yang mengalir dari budaya orang Papua.
Semoga
kita diselamatkan dari bau imperialisme modern yang semakin merasuki sendi-sendi
hidup orang Papua dari para kapitalis dan kaki tangan mereka. Setidaknya dapat bertahan
untuk tetap berdiri di atas kaki sendiri dan tetap dikenal sebagai orang Papua.

Komentar
Posting Komentar