BUNG HATTA DAN PAPUA
Faktanya Papua berbeda. Di antara Bung Hatta dan perjuangannya tentang kemerdekaan Indonesia, terselib Papua dan penolakan terhadapnnya.
kamp-kamp pengasingan di Boven Digoel
(sumber gambar : https://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_Pengasingan_Boven_Digoel)
Tahun
1926-1927, terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan PKI (Partai Komunis
Indonesia) dan oleh pemerintah Belanda dianggap sebagai sebuah ancaman yang
berbahaya. Situasi tersebut membuat pemerintah Belanda mengambil inisiatif
untuk membuka sebuah tempat jauh dan terisolir yang dapat membuat mereka yang
ditangkap melupakan cita-cita perjuangan bangsa.
Pemberontakan
PKI menyebar dengan cepat dari beberapa Kerasiden di Jawa hingga ke Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku yang digerakkan oleh tokoh-tokoh agama dan
berbagai gerakan politik setempat. Selain PKI, Partai PNI (Partai Nasionalis
Indonesia) dan beberapa partai juga ikut terlibat dalam pemberontakan ini,
sehingga kontrol pemerintah Belanda atas partai-partai saat itu sangat ketat.
Oleh karena terjadi secara serentak di berbagi tempat di Indonesia,
pemberontakan ini juga dikenal sebagai pemberontakan terbesar pertama rakyat
Indonesia di negeri jajahan Belanda.
Kondisi
yang mulai memanas dan kekhawatirkan pemerintah Belanda akan semakin
menyebarnya kesadaran politik dan tentunya kesadaran nasional, membuat Gubernur
Hindia Belanda Jenderal De Graef berinisiatif membuka sebuah penjara yang
sangat jauh dan liar untuk membuang orang-orang memberontak yang ditangkap.
Melalui kapten L. Th. Becking,
sebuah penjara alam di Boven Digoel didirikan awal tahun 1927 sebagai tempat buangan
bagi para pemberontak atau yang tergabung di dalam gerakan nasional yang di
gerakkan oleh PKI 1926-1927 melawan kolonialisme Belanda. Kecurigaan
pemerintah terhadap partai-partai lainnya, berimbas juga pada ditangkapnya Bung
Hatta, Sutan Sjahrir dan beberapa orang dari partai PNI
Boven
Digoel (sekarang berdiri sebagai kabupaten Boven Digoel) yang terletak di
selatan pulau Papua adalah sebuah nama rawa-rawa di bagian hulu sungai yang
diberikan oleh pemerintah Belanda, sejak ada inisiatif untuk membuka penjara
alam. Di abad ke 20-an Digoel tentu menarik pemerintah untuk membuka penjara
alam karena kondisi daerah yang terpencil dengan diselimuti hutan, bahkan
pemukiman orang asli Papua tidak nampak satupun. Oleh kondisi itu, Digoel
disebut penjara alam. Situasi dan kondisi penjara alam ini membuat para tawanan
di sini mengalami banyak hal, dari yang stres lalu menjadi gila, meninggal
karena di gigit nyamuk malaria karena letak kamp yang dekat dengan sungai yang tentu
melahirkan banyak nyamuk, ada pula yang meninggal karena mencoba melarikan diri
dari penjara dan masuk ke hutan tetapi tidak dapat kemana-mana dan akhirnya meninggal
dalam hutan. Hal-hal kecil lain yang dialami adalah kehabisan makanan dan
keperluan lainnya.
Kantor
pusatnya didirikan di kilometer 455 di hulu sungai Digoel, dengan membagi wilayah menjadi 3 yaitu 1) wilayah administrasi,
dimana para pejabat sipil tinggal 2) wilayah militer dan 3) tempat pengasingan.
Penjara alam ini dipimpin oleh seorang kapten tentara kolonial yang disebut
dengan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger atau tentara kerajaan Hindia
Belanda) yang mulai beroperasi tahun 1927. Di tempat pengasingan inilah satu dari
sekian banyak anggota PKI ditangkap dan dikucilkan, termasuk Bung
Hatta dan beberapa anggota dari partai PNI.
Dapat
dikatakan itu adalah kali pertama Bung Hatta sampai dan lihat dari dekat pulau
paling ujung yang dihuni oleh orang Papua. Hatta dan kelompoknya sampai di
Papua, Boven Digoel pada 7 Maret 1935. Dalam buku “Renungan Indonesia” karya
Sutan Sjahrir yang memuat perjalanan dan lika-liku hidup selama di Boven Digoel
dan Banda Neira, telah menjelaskan tentang bagaimana perasaan mereka ketika melihat daratan
pulau Papua di depan mereka. Sebuah pulau yang terlihat seakan tak berpenghuni karena lebatnya
hutan, bahkan tak terlihat satupun perumahan dan nampak tidak adanya jamahan tangan manusia pada tanah itu.
Baru
disadari bahwa pulau tersebut memang belum terjamah secara keseluruhan karena selain
pemerintah Belanda baru membuka daerah ini, kondisi alam yang cukup sulit juga
menghabatnya, ditambah serangan gigitan nyamuk malaria. Bung Hatta dan
teman-temannya hanya menjalani masa pengasingan selama satu tahun di Digoel, 1
Februari 1936 mereka dipindahkan ke Banda Neira. Artinya, cukup singkat
kenangannya di Papua, namun memberi banyak kesan dan pandangan politik yang
berbeda soal Papua di kemudian dengan para tokoh Nasionalis lainnya.
Di
Digoel, Hatta dan teman-temannya bergabung di kelompok Naturalis yang adalah
kelompok yang menolak bekerja pada Belanda. Di karenakan kelompok ini tidak
bekerja pada Belanda maka, mereka tidak digaji dan hanya mendapat jatah makanan
setiap bulan yang kenyataanya tidak cukup untuk keperluan sebulan. Untuk
menambah uang makan, bung Hatta mengakalinya dengan menulis artikel dan mendapatkan
tambahan uang dari artikelnya tersebut, sedangkan untuk yang lainnya dengan
cara mencari ikan di sungai Digoel atau berkebun memanfaatkan tanah-tanah yang
ada untuk bekerja menghidupi diri. (Mohamad
Bondan, 2011: 46)
Setelah
masa pengasingan mereka usai dan dengan kedatangan tentara Jepang ke Indonesia
membawa angin segar bagi para pemimpin di negeri jajahan karena cita-cita
Indonesia merdeka sudah di ambang pintu. Melalui berbagai proses, sampailah
tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia merundingkan batas-batas yang akan dimasukan
ke dalam wilayah Indonesia. Hal ini dibahas dalam sidang BPUPKI 11 Juni 1945.
Ketika
Hatta dengan tegas menolak memasukan Papua dalam bingkai NKRI, tokoh lain yang
hadir dengan tegas menolaknya. Dengan kesannya selama 1 tahun hidup dalam
pengasingan di Papua dan melihat langsung keadaan di sana, yang menurutnya
selain berbeda secara ras, dia juga ingin orang Papua menentukan hak mereka
sebagai bangsa sendiri. Bung Hattapun tidak ingin Indonesia dianggap oleh dunia
luas sebagai negara imperialis, sehingga sempat keluar kalimat dari Hatta : "jika ingin memasukan Papua, kenapa tidak kita minta juga memasukan daerah
kepulauan di Pasifik sana". Semua ungkapan penolakan yang diutarakan oleh Hatta ini
tidak pernah disetujui dalam pertemuan tersebut.
Semua pandangan Hatta
dalam sidang BPUPKI hanya didasarkan akan kenangannya dan fakta yang dilihatnya
secara langsung, bahkan fakta tertulis tentang Papua yang diketahuinya, bahwa Papua
seharusnya tidak perlu diambil pusing, hanya lepaskan dan serahkan pada orang
Papua sendiri sebagai pemilik tanah itu.

Komentar
Posting Komentar